Benarkah Kelapa Sawit Penyebab Deforestasi?

Hutan merupakan sumber daya alam yang dapat memberikan banyak manfaat khususnya bagi makhluk hidup. Selain sebagai sumber keanekaragaman hayati (biodiversity)  yang terbesar di dunia meliputi flora dan fauna, hutan juga sebagai bank lingkungan regional dan global yang tidak ternilai, baik sebagai pengatur iklim, penyerap CO2 serta penghasil oksigen, sumber plasma nutfah, hingga fungsi hidrologi yang sangat penting  bagi kehidupan manusia. Indonesia memiliki hutan tropis yang luas wilayahnya menempati peringkat ketiga di dunia setelah Brazil dan Republik Demokrasi Kongo. Dengan luas 1.860.359,67 km2 daratan, 5,8 juta km2 wilayah perairan dan 81.000 km garis pantai, Indonesia ditempatkan pada urutan kedua setelah Brazil dalam hal tingkat keanekaragaman hayati (Ministry of Environment, 2009).

‘Murah hati’nya sang hutan dalam ‘menghidupi’ makhluk hidup rupanya tidak sebanding dengan perawatan yang ia dapatkan. Hutan yang begitu besar manfaatnya semakin rusak karena faktor manusianya yang abai terhadap pemeliharaan lingkungan karena mengejar profit, sehingga eksploitasi terhadap hutan dilakukan tanpa henti. Industri yang kian berkembang menghendaki lahan sebagai tempat produksi, hal ini juga yang menyebabkan terjadinya deforestasi, sehingga kerusakan hutan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Deforestasi atau kehilangan tutupan hutan di Indonesia menjadi masalah penting di Indonesia di mulai pada awal 1970-an. Hal ini diakibatkan penebangan hutan secara komersil mulai dibuka secara besar-besaran. Departemen Kehutanan menyatakan angka laju kerusakan hutan Indonesia adalah 2,83 juta hektare/tahun dalam kurun waktu 1997-2000 (Departemen Kehutanan, 2005). Periode selanjutnya, laju deforestasi mengalami penurunan selama kurun waktu 2000-2009 sekitar 1,5 juta hektare/tahun (FWI, 2011) dan menjadi 1,1 juta hektare/tahun pada periode 2009-2013 (FWI, 2014). Penurunan laju deforestasi ini bukan karena prestasi pemerintah berhasil melindungi hutan, melainkan karena luas hutan yang semakin menyusut.

Benarkah perkebunan kelapa sawit menyebabkan deforestasi?

Dalam beberapa studi dan penelitian menemukan bahwa perkebunan kelapa sawit, merupakan kontributor utama terhadap hilangnya hutan di Indonesia. Hampir 1,6 juta hektar hutan sekunder dan 1,5 juta hektar hutan primer telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit dan serat kayu. Hasil analisis Forest Watch Indonesia (FWI) di delapan Provinsi (Aceh, Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat) lokasi kajian menemukan terdapat 1,4 juta hektare kawasan hutan telah dibebani izin perkebunan kelapa sawit. Sekitar 61% lokasi tumpang tindih tersebut berada pada kawasan hutan dengan fungsi produksi. Adanya izin perkebunan kelapa sawit di dalam kawasan hutan produksi semakin memperlihatkan buruknya tata kelola hutan khususnya dalam sektor perizinan. Berdasarkan kajian dari FWI, pada rentang waktu 2013-2016 area-area tumpang tindih tersebut telah kehilangan lebih dari 50 ribu hektare hutan alam, dan hanya menyisakan 424 ribu hektare atau 29% hutan alam dari area yang terjadi tumpang tindih.

Media daring Kompas juga menyatakan, perkebunan sawit semakin menjadi penggerak deforestasi yang kini luasnya mencapai 11,9 juta hektar. Selain disebabkan deforestasi legal atau terencana, pertambahan luas kebun sawit terjadi secara ilegal, yang mengancam hutan konservasi dan lindung. Data Kementerian Pertanian menunjukkan, sekitar 1,7 juta hektar kawasan hutan dipakai untuk perkebunan sawit rakyat dan 800.000 hektar untuk perkebunan sawit negara atau swasta. Legalitas lahan itu menjadi kendala dalam mengikuti sertifikasi wajib Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Deforestasi yang berkaitan dengan sawit ini banyak menimbulkan pertentangan dari banyak negara, khususnya eropa. Hasil voting Anggota Parlemen Eropa menyatakan sawit merupakan penyebab deforestasi, degradasi habitat, masalah hak asasi manusia, standar sosial yang tidak patut, dan masalah tenaga kerja anak. Voting yang dilakukan Komite Lingkungan, Kesehatan Masyarakat dan Keamanan Pangan tahun lalu  menyatakan setuju dengan laporan yang diajukan tersebut dengan suara 56 berbanding 1.

Melihat hal ini, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Supiandi Sabiham tidak sepakat dengan pernyataan parlemen Uni Eropa tersebut. Dari hasil wawancara Okezone.com dalam acara Roundtable Discussion yang digelar di Jakarta, Supiandi menyatakan bahwa perkebunan kelapa sawit justru sebagai penyelamat deforestasi. Dia menambahkan, deforestasi dan kerusakan lahan tidak disebabkan oleh berkembangnya perkebunan kelapa sawit. Karena sejatinya, kerusakan lahan dan hutan sudah jauh terjadi sebelum sawit berkembang di Tanah Air.

Anggapan tersebut juga seakan di dukung oleh hasil penelitian dari Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Yanto Santosa, yang menyatakan hal serupa yaitu deforestasi tidak disebabkan oleh kelapa sawit. Riset deforestasi tersebut dilakukan pada 2016 lalu dengan terjun langsung ke delapan kebun sawit milik perusahaan besar dan 16 kebun sawit rakyat sebagai sampel. Kebun-kebun tersebut berada di Kabupaten Kampar, Kuantan Singingi, Pelelawan, dan Kabupaten Siak di Provinsi Riau. Dari hasil survei ke lapangan tersebut, Yanto berani memastikan bahwa sawit bukan merupakan penyebab deforestasi di Indonesia. Menurutnya, lahan perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia tidak berasal dari kawasan hutan. Ditambah lagi pemaparan dari Anggota Dewan Pakar Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki) Petrus Gunarso, menyatakan kebun sawit di Indonesia berasal dari hutan terdegradasi yang memang oleh pemerintah dialokasikan untuk kawasan non hutan. Asal usul kebun sawit lainnya, menurut Petrus berasal dari areal penggunaan lain (APL) alias areal bukan kawasan hutan yang semula masih berhutan. Kawasan APL ini memang secara hukum di Indonesia diperbolehkan untuk digunakan untuk kepentingan non hutan.

Beberapa pihak menyatakan bahwa penelitian tersebut dianggap menyesatkan. Seperti yang dilansir dari media daring KiniNews, Direktur Eksekutif Sawit Watch, Inda Fatinaware, menegaskan bahwa penelitian tersebut tidak mewakili keseluruan wilayah Indonesia karena mengambil kesimpulan bahwa Sawit bukan faktor penyebab deforestasi hanya berdasarkan sampel dari satu provinsi. Inda juga menambahkan, perkebunan kelapa sawit di Indonesia bukan hanya di Riau, namun ada dari Aceh sampai dengan Papua, yang dewasa ini semakin berlomba-lomba menanam sawit dengan dukungan penuh dari pemerintah. Bukti Sawit Penyebab Deforestasi Lebih lanjut, Ia menyatakan bahwa pada tahun 2015 saja sudah terjadi alihfungsi kawan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dengan total luasan 6,6 juta ha. Ada indikasi jelas perusahaan melakukan usaha di kawasan hutan, dan ini merupakan bukti bahwa kelapa sawit melakukan deforestasi.

Deforestasi ini sangat mengkhawatirkan habitat baik flora maupun fauna yang sangat mempengaruhi keberadaan keanekaragaman hayati. Kondisi ini akan diperparah dengan adanya kebakaran hutan yang tidak henti-hentinya sepanjang tahun dan cepat atau lambat akan mempengaruhi kepunahan keanekaragaman spesies, genetik dan ekosistem. Berdasarkan data dari Green Peace, pada tahun 2013 hanya sekitar 400 ekor harimau diperkirakan tersisa di hutan-hutan hujan Sumatra dan berkurang secara pesat seperempat juta hektar tiap tahunnya. Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI) adalah penyebab hampir dua pertiga kerusakan habitat harimau dalam kurun waktu antara 2009 sampai 2011. Keadaan ini juga meningkatkan kontak dengan manusia; yang mengakibatkan meningkatnya perburuan harimau liar untuk perdagangan kulit dan obat-obatan tradisional serta meningkatnya serangan harimau yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia dan harimau.

Bahkan habitat harimau Sumatra dalam wilayah lindung seperti Taman Nasional Tesso Nilo, telah dirusak tanaman industri untuk produksi minyak kelapa sawit ilegal. Kegagalan ini menunjukan bagaimana regulasi dan ekspansi yang semrawut dan tidak bertanggung jawab, terutama dari perkebunan kelapa sawit dan HTI. Hal ini melemahkan komitmen pemerintah Indonesia untuk menghentikan deforestasi dan menyelamatkan harimau dan kehidupan liar lain yang terancam punah. Situasi serupa juga terjadi pada orangutan di Sumatra dan Kalimantan. Semua orangutan terancam punah. Kerusakan habitat paling akut terjadi di Kalimantan, dimana 141.000 hektare hutan habitat orangutan ditebangi habis antara tahun 2009 dan 2011. Lebih dari sepertiga dari pembukaan hutan ini berada dalam wilayah izin konsesi perkebunan kelapa sawit.

Indonesia, sebagai produsen kelapa sawit harus mengambil kesempatan memegang peran utama untuk mengubah sistem sektor ini. Tidak hanya pemerintah, baik dari sektor perkebunan, pedagang maupun konsumen, serta masyarakat harus saling mengambil andil dalam aksi penyelamatan deforestasi. Pemerintah harus mulai menegakkan moratorium dan memastikan perkebunan kelapa sawit baru, HTI atau perkebunan lainnya dibangun pada lahan dengan simpanan karbon rendah. Pemerintah harus menindak tegas pelaku ilegalitas, termasuk kegagalan untuk memenuhi proses dalam pemberian izin, kegagalan untuk mematuhi peraturan lahan gambut atau pelarangan pembakaran. Pemerintah harus tegas mencabut konsesi pelanggar yang keras kepala serta yang melanggar peraturan. Dari sektor perkebunan juga harus mendukung langkah-langkah tingkat bentang alam/lansekap untuk melindungi dan memperkuat situs-situs penting secara ekologis termasuk habitat harimau dan spesies terancam punah lainnya.

Namun perlu digaris bawahi, data-data jelas menunjukkan bahwa sawit dan perkebunan industri memainkan peran besar dalam deforestasi, tetapi bukan pemegang seluruh cerita. Proses sosial masyarakat, pembalakan liar, kebakaran, serta kebijakan ekonomi dan politik juga mempunyai peranan penting. Perlu adanya upaya menyelesaikan berbagai faktor penyebab secara keseluruhan dan dukungan semua pihak baik masyarakat secara umum maupun pemerintah.

 

Rujukan :

Departemen Kehutanan Republik Indonesia, 2005, Rekalkulasi Penutupan Lahan Indonesia

Tahun 2005.Jakarta: Departemen Kehutanan Republik Indonesia.

Forest Watch Indonesia/Global Forest Watch. 2014. Potret Keadaan Hutan Indonesia. Bogor:

Forest Watch Indonesia dan Washington DC: Global Forest Watch.

Ministry of Environment, 2009. Fourth National Report The Convention on Biological

Biodiversity.Jakarta: Biodiversity Conservation Unit, Ministry of Environment.

Wirendro Sumargo et.al, 2011, “Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode Tahun 2000-2009”,

Bogor: Forest Watch Indonesia (FWI).

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan