Dinamika Pers Mahasiswa Kota Malang Tahun 2015-2017

Salam Pers Mahasiswa! Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) telah menjadi wadah bagi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Indonesia sejak 25 tahun silam. Kelahirannya di Malang pada tahun 1992 menjadi sebuah titik balik baru, bagi pergerakan dunia jurnalistik yang dikelola oleh mahasiswa. Sebagai wadah yang besar, PPMI tentu memiliki banyak cerita yang tak sama, dari kota paling ujung Barat Indonesia, hingga kota paling Timur Indonesia. Dari tahun awal berdirinya, hingga jauh di masa depan ketika mungkin PPMI akan menutup usianya. Oleh rupa-rupa keadaan dan cerita yang ada di tiap kota dan masa tidaklah sama, PPMI Kota Malang melakukan riset kepada LPM-LPM di Kota Malang yang tergabung dalam PPMI. Hal itu dilakukan sebagai upaya terbaik untuk melihat kondisi serta cara tiap-tiap LPM dalam menjalankan roda organisasinya. Seperti halnya bayi kembar yang tetap memiliki perbedaan, LPM-LPM pun juga tak luput dari perbedaan. Perbedaan-perbedaan itulah yang menjadikan LPM-LPM di Kota Malang menjadi beragam dan penuh warna. Lembar demi lembar dari naskah ini, pembaca akan melihat arah gerak LPM Kota Malang untuk pada periode 2015-2017. Dimulai dari produk media yang dikeluarkan oleh LPM sebagai ujung tombak kegiatan jurnalistiknya. Seberapa besar yang masih menggunakan media konvensional dengan kertas (serupa majalah, buletin, ataupun koran tempel) sebagai media utamanya. Juga seberapa besar pengadopsian media mutakhir seperti website dan media sosial, dimanfaatkan untuk menjangkau pembaca yang kian dinamis. Sumber pendanaan dan pesebaran isu yang diliput oleh LPM pun tak luput menjadi bahasan dalam hasil riset ini. Bagaiamana cara LPM bertahan hidup untuk mencukupi kebutuhan organisasi, apakah dana dari kampus menjadi sumber utama modal dari LPM atau terdapat sumber modal lain luar institusi pendidikan yang juga menopang kehidupan LPM. Setelah mendapatkan modal, isu-isu seperti apa yang menjadi perhatian LPM untuk diliput dan akhirnya diterbitkan dengan memanfaatkan modal yang mereka miliki. Pers dalam menjalankan kegiatan jurnalistiknya sangat rentan mengalami gesekan dengan berbagai pihak. Maklum, tugasnya memang mencari informasi sejelas mungkin terkait sebuah isu, kepada berbagai sumber-sumber informasi terkait, termasuk dengan pihak yang dipermasalahkan dalam sebuah isu. Tugasnya mengungkapkan kebenaran ini tidaklah selalu berjalan baik, beberapa pihak yang merasa dirugikan dengan pemberitaan LPM, melakukan upaya represif. Mulai dari intervensi konten pemberitaan, intimidasi, penyensoran, pembredelan, kekerasan fisik, hingga masalah dana dan pembekuan lembaga. Aktor-aktor yang terlibat dalam upaya represif pun beragam. Mulai dari birokrat kampus, panitia, petugas keamanan, hingga mahasiswa itu sendiri. Dalam mengatasi permasalahan-permasalahan itu, LPM tentunya mau tidak mau akan memiliki pengalaman advokasi tersendiri. Dasar-dasar apa yang digunakan LPM dalam mengatasi sengketa pers yang menimpa mereka. Apakah UU Pers No. 40 masih relevan digunakan oleh LPM sebagai jalan keluar atas permaslahan mereka? Atau masih ada dasar hukum lain seperti UU Kebebasan Berpendapat dan Kode Etik Jurnalistik. Kesemua itu ada di dalam lembaran-lembaran hasil riset ini. Harapannya hasil riset ini dapat menjadi catatan sejarah dan acuan untuk membuat langkah strategis demi kemajuan LPM di Kota Malang agar menjadi lebih baik. Semoga bermanfaat.
Book Cover: Dinamika Pers Mahasiswa Kota Malang Tahun 2015-2017

Salam Pers Mahasiswa!

Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) telah menjadi wadah bagi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Indonesia sejak 25 tahun silam. Kelahirannya di Malang pada tahun 1992 menjadi sebuah titik balik baru, bagi pergerakan dunia jurnalistik yang dikelola oleh mahasiswa. Sebagai wadah yang besar, PPMI tentu memiliki banyak cerita yang tak sama, dari kota paling ujung Barat Indonesia, hingga kota paling Timur Indonesia. Dari tahun awal berdirinya, hingga jauh di masa depan ketika mungkin PPMI akan menutup usianya.

Oleh rupa-rupa keadaan dan cerita yang ada di tiap kota dan masa tidaklah sama, PPMI Kota Malang melakukan riset kepada LPM-LPM di Kota Malang yang tergabung dalam PPMI. Hal itu dilakukan sebagai upaya terbaik untuk melihat kondisi serta cara tiap-tiap LPM dalam menjalankan roda organisasinya.

Seperti halnya bayi kembar yang tetap memiliki perbedaan, LPM-LPM pun juga tak luput dari perbedaan. Perbedaan-perbedaan itulah yang menjadikan LPM-LPM di Kota Malang menjadi beragam dan penuh warna.

Lembar demi lembar dari naskah ini, pembaca akan melihat arah gerak LPM Kota Malang untuk pada periode 2015-2017. Dimulai dari produk media yang dikeluarkan oleh LPM sebagai ujung tombak kegiatan jurnalistiknya.

Seberapa besar yang masih menggunakan media konvensional dengan kertas (serupa majalah, buletin, ataupun koran tempel) sebagai media utamanya. Juga seberapa besar pengadopsian media mutakhir seperti website dan media sosial, dimanfaatkan untuk menjangkau pembaca yang kian dinamis.

Sumber pendanaan dan pesebaran isu yang diliput oleh LPM pun tak luput menjadi bahasan dalam hasil riset ini. Bagaiamana cara LPM bertahan hidup untuk mencukupi kebutuhan organisasi, apakah dana dari kampus menjadi sumber utama modal dari LPM atau terdapat sumber modal lain luar institusi pendidikan yang juga menopang kehidupan LPM. Setelah mendapatkan modal, isu-isu seperti apa yang menjadi perhatian LPM untuk diliput dan akhirnya diterbitkan dengan memanfaatkan modal yang mereka miliki.

Pers dalam menjalankan kegiatan jurnalistiknya sangat rentan mengalami gesekan dengan berbagai pihak. Maklum, tugasnya memang mencari informasi sejelas mungkin terkait sebuah isu, kepada berbagai sumber-sumber informasi terkait, termasuk dengan pihak yang dipermasalahkan dalam sebuah isu. Tugasnya mengungkapkan kebenaran ini tidaklah selalu berjalan baik, beberapa pihak yang merasa dirugikan dengan pemberitaan LPM, melakukan upaya represif. Mulai dari intervensi konten pemberitaan, intimidasi, penyensoran, pembredelan, kekerasan fisik, hingga masalah dana dan pembekuan lembaga. Aktor-aktor yang terlibat dalam upaya represif pun beragam. Mulai dari birokrat kampus, panitia, petugas keamanan, hingga mahasiswa itu sendiri.

Dalam mengatasi permasalahan-permasalahan itu, LPM tentunya mau tidak mau akan memiliki pengalaman advokasi tersendiri. Dasar-dasar apa yang digunakan LPM dalam mengatasi sengketa pers yang menimpa mereka. Apakah UU Pers No. 40 masih relevan digunakan oleh LPM sebagai jalan keluar atas permaslahan mereka? Atau masih ada dasar hukum lain seperti UU Kebebasan Berpendapat dan Kode Etik Jurnalistik.

Kesemua itu ada di dalam lembaran-lembaran hasil riset ini. Harapannya hasil riset ini dapat menjadi catatan sejarah dan acuan untuk membuat langkah strategis demi kemajuan LPM di Kota Malang agar menjadi lebih baik.

Semoga bermanfaat.

Published:
Publisher: PPMI Kota Malang

Tinggalkan Balasan