[Cerpen] Seonggok Tubuh Tua

Diruangan yang tidak terlalu luas itu, embun turun membasahi jendelaku. Wajar saja, letak kamar mandi yang tidak jauh dari ruanganku pasti penyebab dari masalah itu. Iseng saja, aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh ujung permukaannya dengan telunjuk kananku. Hawa dingin segera menjalari wajah dan lenganku. Aku kembali duduk dan membuka laptop yang sudah ada di meja ruanganku.

Beberapa bulan terakhir ini aku sangat gelisah. Aku tidak pernah memikirkan dan merindukan seseorang dalam waktu yang lama sejak aku menikah dengan istriku. Puluhan tahun perasaan itu telah mati, kini muncul kembali. Aku sadar bahwa aku jatuh cinta lagi pada seseorang yang barang kali lebih pantas menjadi cucuku.

Seseorang mahasiswi pertanian berusia Sembilan belas tahun. Dia begitu cerdas, sopan, dan wajahnya enak dipandang.

Aku tahu, umurku terlalu tua untuk kembali bercinta. Tapi siapa yang bisa menahan rasa yang begitu halus datang menelusuk dalam hatiku, menggantikan mimpi buruk menjadi mimpi indah, memeluk pikiran yang gelisah menjadi tenang. Perasaan itu hangat seperti lilin, lambat laun, sedikit demi sedikit meleleh.

Dulu perasaan itu pernah ada dengan orang yang berbeda. Berkali-kali aku jatuh cinta kepada mahasiswi. Tentu saja aku berpikir untuk menikah dengan mereka, tapi dengan cepat mereka menyelesaikan studinya dan pulang ke kampung halaman.

Hubunganku tidak pernah berjalan baik. Akupun melepaskan rasa itu. Ada sedikit patah hati, lalu tumbuh lagi patah-lagi, tumbuh-lagi, sebelum akhirnya sengaja rasa itu aku buang dengan perkawinan dan menua bersama isteri.

Beberapa tahun lamanya aku tidak memikirkan rasa itu lagi. Hatiku yang lama tidak terisi, kini mulai terisi lagi. Aku jatuh cinta lagi setelah hampir lupa bagaimana perasaan itu. Perempuan itu membuat dadaku berdegup kencang seketika bertemu.

Perempuan berbadan kurus dan mungil dengan sepasang mata yang bersih dinaungi alis tebal. Mukanya selalu mengibarkan senyum setiap kali menjumpai ruanganku.

Dalam diam perlahan aku memandangi wajahnya. Sepasang bola mata menatap padaku. Sejenak dadaku bergetar sangat “sepertinya dia juga merasakan apa yang aku rasakan” gumamku dalam hati.

Saat dia datang membawa setumpukan kertas, bimbingan tugas, sengaja aku ulur waktu menjadi paling lama, tujuanku agar bisa berlama-lama memandanginya. Aku pandang sepasang bola mata yang menatap lekat kepadaku. Aku tidak mempedulikan banyaknya mahasiswa yang mengantri ingin konsultasi diluar ruangan hingga datang dosen yang lain menegurku.

“Pak, ini mahasiswanya sampai ada yang tertidur diluar”
 “Enggih Pak, sebentar lagi” jawabku.

Semakin aku keras berbicara, dan tanganku sedikit diangkat, matanya semakin cengang memandangiku, dan beberapa anggukan aku lihat dari mukanya. Dia begitu yakin pada saranku meski hatinya tak berhenti gelisah.

Aku mendekatkan suara seakan-akan tidak mau didengar orang lain dengan mengatakan.

“Semangat, Besok jam 10:00 pagi aku tunggu di sini” paksaku.

“Siap pak” dengan sedikit senyum terpaksa.

Sayangnya aku harus mengakhiri perjumpaan itu karena antrian diluar sudah seperti Kereta Api.

Saat dia bertemu dengan kawan-kawannya, jalan bersama, dan mengobrolkan seorang pria tampan, aku selalu marasa cemburu. Aku tahu dia akan terus tumbuh menjadi perempuan dewasa lalu lulus dan menikah seperti perempuan pada umumnya, dan berkeluarga, beranak pinak, bercucu. Sedangkan aku, mungkin hanya bisa mengandai-andai agar bisa bersamanya meski itu tidak mungkin terjadi.

Saat dia hampir wisuda, dan sebentar lagi dia akan pulang seperti wanita-wanita yang pernah aku cintai. Baru aku sadari bahwa selama ini aku telah dimabuk cinta. Anehnya aku tidak menyadari kalau aku terjerumus kedalam lubang yang sama. Mencintai salah seorang mahasiswi lagi.

Hanya dengan senyuman setiap kali bertemu, aku terkapar, terikat dan tidak mendidik secara benar, hingga menelantarkan mahasiswa-mahasiswa lain demi melihat wajah seorang. Perasaan itu bergulung dalam dadaku, sedikit menginsyafi perlakuanku selama ini.

Dari hari kehari, aku selalu berharap ada sebuah mukjizat yang bisa membuat kembali pada masa dimana dia masih semester satu. Dan aku akan mendidik dengan benar semua mahasiswa yang telah aku terlantarkan.

Mencoba hal-hal yang belum pernah aku coba. Terutama tertawa didepan semua mahasiswa, tidak garang pada mahasiswa, membagi waktu dengan rata, tertawa bersama, ngopi bersama, diskusi bersama, serta bisa membimbing tanpa harus keruangan. Namun, itu semua hanya angan, Semua waktu tidak bisa diulang.

****

Dalam keheningan kamarku, aku kerap berdialog dengan diriku sendiri.

“Kau harus berhenti mencintai dia” kata diriku.

“Tidak bisa, dia selalu memberikan semyum setiap kali bertemu” kata diriku yang lain.

“Jangan-jangan dia memiliki perasaan yang sama kepadamu” “Itu tidak mungkin”

“Sikapnya begitu manis, sopan, dan selalu tersenyum. Semua sikapnya sudah benar”
“Tidak, dia menghormatiku saja sebagai dosen. Sebagai laki-laki tua, bukan mencintaiku”

Aku harus sadar diri, bahwa apa yang dia lakukan hanya sebuah penghormatan, dan aku mencoba menjauhinya. Aku tidak lagi meluangkan waktu untuknya. Semua urusan kampus, segala pemberkasan, aku tidak lagi membantunya.

Terakhir ketika dia keruanganku, aku bilang lagi sibuk. Setiap kali dia bertanya apakah ada yang bisa dibantu, aku menjawabnya dengan muka sinis bahwa aku bisa mengurus diriku sendiri tanpa bantuanmu.

“Mungkin aku sudah tua, tapi aku masih cukup melakukan banyak hal” kataku
“Kau urus saja dirimu, kau masih muda, ada banyak hal lebih bermanfaat dibandingkan mengurusi kakek tua ini,”
Kata-kataku terlalu sentimental. Semua ini aku lakukan demi kebaikan diriku dan demi kebaikan dirinya. Anehnya, dia malah cengang layaknya orang kebingungan mau ngapain. Aku lihati wajahnya, terdapat linangan air mata yang menetes di pipi manisnya.

Air mata itu keluar mungkin karena emosi pada tingkahku atau itu sebuah kebahagiaan karena aku tidak akan menggangunya lagi, atu bisa juga berupa kesedihan yang teramat. Air mata yang menetes, tentu menyimpan cerita tersendiri, dan air mata adalah senjata utama kaum perempuan. Aku sendiri bingung, kenapa dia menangis?

“Pak!” Tiba-tiba dia bersuara

Aku terlalu nyaman dengan bapak, aku ingin mengabdikan diri ilmu dan raga saya sebelum saya pulang ke kampung halaman” lanjutnya

“Tujuanmu apa?” tanyaku sedikit acuh

“Aku ingin mendapatkan ilmu barokah. Sudah menajadi kewajiban saya menghormati bapak. Guru menajadi orang tua kedua. Apapun yang bapak suruh, selagi tidak bertentangan dengan agama akan saya lakukan bapak” dengan kepala menunduk sedikit mengeluarkan air mata.

Sejak kejadian itu, kami jarang berpapasan kecuali urusan akademik. Di kampus, dia tetap berlaku sopan layak seperti mahasiswa lain. Menyapa dengan normal, dan tersenyum saat berpapasan. Aku tidak peduli, sebesar apapun perasaan itu, aku akan menguburnya dalamdalam.

Terakhir kami bertemu setelah dia di wisuda. Dia membawa keluarganya ke rumah. Mengenalkan ayah dan ibunya. Aku yakin, ayahnya pasti seumuranku. Sebelum mereka pulang, dia menyodorkan undangan berwarna kuning. Dia bilang, dalam waktu dekat dia akan menikah. Aku tergoncang parah, sesuatu dalam diriku mendadak runtuh, tak tersisa seperti rumah lapuk yang kedatangan badai lalu roboh. Seketika aku terempas kedalam jurang yang terjal.

“Baca” ungkapnya pelan

Ingin rasanya mengatakan kalau selama ini aku jatuh cinta padanya, namun tidak berani aku ungkapkan. Aku hanya bisa duduk dikursi dengan menatap undangan itu sebelum akhirnya dia benar-benar lenyap dari kehidupanku dan pulang ke kampung halamannya.

Perempuan itu sudah pulang ke kampung halaman. Undangan itu belum aku buka. Andai dia tahu, meninggalkan undangan perkawinan sama halnya menancapkan duri ke dalam tubuh. Hampir semalam aku menangis, untung saja istriku tidak ada, dia keluar kota urusan kantornya. Dalam kesendirianku, aku selalu mengeluarkan air mata tanpa benar-benar tahu apa yang sebenarnya aku tangisi.

Umurku saat ini sudah beranjak empat puluh tujuh tahun, sudah mempunyai anak dua. Malam itu juga, aku beranikan membuka undangan itu, ternyata isinya bukan undangan pernikahan, hanya coretan yang berbuah ajakan “Maukah sampean menjadi suamiku Pak?”

Aku menyelimuti tubuhku dengan selembar kertas itu. Kaget dan tidak percaya. Kenapa disaat aku sudah beristri, datang mahasiswi dan minta dinikahi. Sedangkan diwaktu muda, aku selalu dikhianati lalu ditinggal pergi? Aku tidur dan berharap tidak bangun lagi.

Penulis : Hanifuddin Musa, lahir di Sumenep, 21,07,1999. Suka membaca novel dan menulis.

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan