Diversifikasi Pangan

Pangan tidak sesederhana diartikan sebagai kebutuhan fundamental yang harus dipenuhi manusia guna mempertahankan kehidupannya. Seiring berkembangnya dinamika peradaban manusia, makna-makna baru bermunculan terkait pangan – yang bukan hanya soal urusan perut. Pangan adalah kekuasaan. Pangan adalah kebijakan politik. Pangan adalah alat ekspresi bagi pekerja seni. Pangan berarti sesembahan dalam ritual agama.

Terkait dengan semua makna pangan, pada abad ke-19 dikenal sebuah usaha yang dinamakan diversifikasi pangan. Menurut Undang-undang Nomor 18/2012 tentang Pangan menjelaskan bahwa Diversifikasi Pangan adalah upaya peningkatan ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan berbasis pada potensi sumber daya lokal.

Diversifikasi pangan dirasa perlu dilaksanakan terkait beberapa hal. Dari segi budaya, saat Revolusi Hijau, pemerintah Indonesia memaksakan penanaman padi bahkan di daerah-daerah yang makanan pokoknya bukan padi. Hal ini disebut monokultur. Keanekaragaman masyarakat Indonesia mestinya dihormati, bukan malah sumber dayanya dimonopoli. Dari aspek kelestarian lingkungan, diversifikasi pangan berarti diversifikasi dalam budidaya pula. Budidaya yang beranekaragam mengurangi endemiknya penyakit tanaman tertentu, juga menjaga siklus alam yang telah berjalan. Diversifikasi pangan berarti juga persaingan pasar yang lebih rendah. Dari aspek kesehatan, memakan berbagai sumber pangan secara seimbang baik untuk kesehatan.

Indonesia memiliki beranekaragam jenis bahan pangan yang dapat dimanfaatkan. Namun Indonesia masih belum mampu  memanfaatkannya baik sebagai produk atau dalam ranah konsumsi sehari-hari. Kurangnya pemanfaatan dan keinginan untuk mengkonsumsi produk yang beragam ini masih menjadi pertanyaan sampai saat ini.

Menurut Ikhasnul Cholik dari LPM Radix Unisma, program diversifikasi pangan sebenarnya sudah lama berjalan dan masih terus berkembang. Masalah pangan sebenarnya sudah ditekankan oleh Ir. Soekarno dalam cuplikan pidatonya, “Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa, apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka malapetaka. Oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner.”

Pergantian nama dan tujuan program yang ingin dicapai pun berbeda-beda mengikuti perkembangan masyarakat. Mengingat kebutuhan pangan ini sangatlah krusial, dimana kebutuhan pangan akan terus berkembang, sesuai dengan teori Thomas Maltus yaitu penduduk akan tumbuh secara deret ukur sementara persediaan makanan tumbuh secara deret hitung. Oleh sebab itu, apabila diversifikasi pangan ini tidak dapat dilaksanakan maka dikhawatirkan akan terjadi kesukaran dalam pemenuhan pangan. Yang berarti ketahanan pangan yang menjadi mimpi Indonesia tidak dapat tercapai.

Sebagai mahasiswa kita harus mampu memberikan andil terhadap program ini salah satunya menerapkan program One Day No Rice. Menurut Desy Fitri, mahasiswi ilmu pertanian Universitas Brawijaya, program ini telah dipraktikkan oleh Dinas Pertanian di Depok, yakni di satu hari kantin kantor dilarang menjual nasi dan diganti dengan nasi empok  atau nasi jagung. Perilaku ini dapat kita terapkan setidaknya beberapa minggu sekali dalam pola makan kita sehari-hari.

Di Indonesia, secara komparatif konsumsi beras sebagai sumber karbohidrat lebih tinggi dibandingkan dengan bahan karbohidrat yang lain. Setidaknya, setiap tahun setiap orang mengkonsumsi beras sekitar 150 kg dimana seharusnya menurut data WHO konsumsi beras per orangnya hanya 60 kg/orang pertahunnya. Sementara itu, bahan pangan sumber karbohidrat yang lain misal jagung di Indonesia lebih banyak digunakan untuk pakan ternak, padahal jagung merupakan bahan pangan yang dapat menjadi substitusi beras.

Potret lainnya adalah masyarakat Indonesia terbiasa menyia-nyiakan makanan, sebuah hal tragis di negeri yang belum swasembada pangan, namun begitulah fakta yang ada. Membuang makanan, terlepas dari larangan agama, masih menjadi hal yang lumrah bukan sesuatu yang membuat malu. Melihat budaya yang ada di Jerman, negara makmur dengan pemenuhan pangan yang cukup, mengejutkan bahwasanya aturan pangan disana bersifat koersif. Di Jerman, meninggalkan sebutir nasi atau lauk yang ada di piring bisa menjadi  permasalahan pelik dan merumitkan, yaitu dikenakan denda kira-kira sebesar Rp. 750.000,-. Prinsip yang mereka pegang adalah “Money is yours, but resources belong to the society.

Dalam pengoptimalan program diversifikasi pangan ini semua mahasiswa sebagai garda depan selayakanya mampu terjun dalam sistem yang ada, terjun sebagai pelaku utama. Menjadi agent of change pangan tidaklah harus berlatar belakang pertanian. Berbekal passion yang dimiliki, dengan alat juang apapun, semua usaha tersebut sifatnya signifikan dalam mensukseskan diversifikasi pangan.

Sebenarnya pengaekaragaman tidak berarti harus menggunakan semua bahan pangan bermacam-macam. Secara tidak langsung ketika kita membuat singkong rebus dan kripik singkong itupun sudah bentuk diversifikasi dalam bidang pengolahan hasil pertanian. Penganekaragam bahan pangan menjadi produk turunan sudah dikatakan menjadi diversifikasi pangan. Dalam hal ini mahasiswa perlu untuk membuat inovasi pengolahan hasil terkait dengan mendukung program diversifikasi pangan.

Tapi dengan adanya paradigma yang sudah mendasar serta terprogram sebegitu rapinya tentang “Belum makan, jika belum makan nasi.” Padahal orang yang mengatakan hal itu sudah menghabiskan 2 bungkus mi instan. Manusia memiliki saraf neuro-sensorik dimana fungsinya adalah meneruskan rangsang dari penerima (indra) ke saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dari sinilah doktrin itu melekat di dalam otak, sehingga ketika kita ingin mengoptimalkan program diversifikasi pangan kita harus menghapus paradigma yang ada pada diri kita.

Tujuan utama ketika kita mampu mewujudkan diversifikasi pangan adalah tercapainya ketahanan pangan dengan terselengarannya Sustainable Development Goals tahun 2030. Tujuan kedua diversifikasi pangan adalah mengakhiri segala bentuk kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi serta turut mendorong pertanian secara berkelanjutan. Penganekaragaman pangan ini menjadi amunisi bangsa Indonesia untuk melakukan pencapaian tersebut selain pangan aman, setiap petani pun mampu mendapatkan hasil maksimal pada setiap komoditas yang ada, tidak tergencet oleh monokultur. Selain itu dengan adanya penganekaragaman pangan ini target Sustainable Develompment Goals yang kedua juga dapat dicapai yaitu menjamin adanya kehidupan yang sehat, serta mendorong kesejahteraan untuk semua orang di dunia pada semua usia.

Partisipasi semua pihak sangatlah diperlukan untuk mencapai visi pangan ini, karena Indonesia masih butuh pelopor dan pendobrak keberhasilan di dunia pangan, khususnya generasi yang mampu menuliskan pemikiranya melalui penanya, bukan kaum yang bersifat stagnasi yang beku jiwa sosialnya terhadap permasalahan yang ada dan bersifat skeptis terhadap perubahan. Kita masih butuh orang-orang yang mampu bergerak dengan tenaganya bukan orang yang hanya spekulatif tanpa ada aksi nyata. Dengan kemauan untuk ikut beraksi dengan mengoptimalkan diversifikasi pangan dipastikan ketahanan pangan di Indonesia bukan hanya mimpi saja.

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan