Happy Old Year: Sebuah Proses Panjang untuk Melepaskan Kenangan

Bagi beberapa orang, barang yang mereka miliki mempunyai nilai yang penting, baik nilai sejarah atau makna yang terkandung di barang tersebut. Maka dari itu, karena nilai-nilai tersebut, tak jarang orang menyimpan barang bersejarah tersebut dan merasa susah untuk membuangnya.
Sumber : iffr.com

Aku tahu film ini karena sering muncul di twitter dan explore Instagram. Terus baca reviewnya di iMDB dan Letterboxd, akhirnya kuputuskan buat nonton film ini pas weekend kmrin biar bisa santai nontonnya.

Film ini menceritakan soal decluttering atau kegiatan membersihkan dan menyortir barang-barang di rumah dengan tujuan agar rumah nyaman, rapi, dan enak dipandang. Si tokoh utama, ‘Jean’ melakukan decluttering karena merasa rumahnya terlalu sesak dengan barang-barang bekas peninggalan ayahnya.

Selain itu, Jean menerapkan hidup minimalis, yang cukup berkaitan dgn kegiatan menata dan menyimpan barang yang berguna. Bagi beberapa orang, barang yang mereka miliki mempunyai nilai yang penting, baik nilai sejarah atau makna yang terkandung di barang tersebut. Maka dari itu, karena nilai-nilai tersebut, tak jarang orang menyimpan barang bersejarah tersebut dan merasa susah untuk membuangnya. Proses decluttering akan terasa susah jika seseorang melihat nilai sejarah atau menggunakan perasaan “sayang” dari barang-barang yang ia miliki.

Konflik bermula saat dia ditegur temannya, ‘Pink’ karena terlalu dingin dan cuek saat membuang barang-barang bekas. Pink pengen Jean menjadi orang yang berbelas kasih saat memilah dan membuang barang-barangnya. Nah, pas proses decluttering Jean nemuin barang peninggalan mantannya, Aim. Pengennya dia langsung buang gitu kan, tapi karena perkataan Pink dia jadi berpikir dua kali soal membuang barang dan mulai memilah barang dengan perasaan.

Jean mengembalikan barangnya Aim dan itu memunculkan banyak konflik internal dalam dirinya. Mulai dari perasaan bersalah, unfinished business dengan ayahnya yang muncul kembali, dsb. Jean juga menyalahkan dirinya sendiri karena ia menggunakan perasaan saat proses decluttering.

Banyak orang di sekitar Jean yang merasa barang bekas sarat akan makna dan perasaan. Barang itu seperti menjadi saksi akan kisah mereka di masa lalu. Hal ini sangatt relate dengan aku, karena aku adalah tipe orang yg menimbun barang bekas. Mulai dari pakaian, buku, tiket kereta, bahkan bungkus coklat. Ya karena barang itu mempunyai makna tersendiri dari ratusan barang lainnya. It sad but it’s true. Agak melankonis memang tapi memang itu hal yang berharga. Apakah aku pernah memikirkan untuk membuang barangnya? Pernah. Apakah terlaksana? Setengah. The other side of me masih nggak mau kehilangan beberapa barang kenangan tersebut, karena sangat sarat akan kenangan.

Tapi, lewat film ini, aku jadi belajar bahwa past is past. Barang dari masa lalu memang mempunyai sejarah dan makna yang dalam, tapi jika itu membuat hidup kita nggak nyaman, kenapa diterusin? Seharusnya let it go. Hidup di bayang-bayang masa lalu juga membuat kita nggak maju, malah yang ada bikin overthinking. Dari film ini juga mengajarkan bahwa manusia kadang suka berlebihan, membeli dan menyimpan barang yang kurang berguna dalam kehidupan. Bukankah untuk mempermudah hidup, kita seharusnya menggunakan barang yang berguna dan mempunyai fungsi yang tepat? Kurang lebih itulah makna hidup minimalis dan seni decluttering.

Penokohan dan alur cerita dari film ini sangat pas. Emosi yang ditampilkan dari setiap tokoh mampu membuat penonton ikut terbawa ke dalam arus emosinya. Sinematografinya unik dan mampu menangkap sisi lain dari tokohnya. Sisi lain yang mampu menunjukkan emosi dan sudut pandang tokoh itu sendiri. Para aktor pun totalitas saat memerankan perannya, seperti Jean yang hanya menggunakan baju berwarna putih, hitam, dan biru yang menampilkan kesan minimalis. Persis seperti perannya di film ini.

Film ini mempunyai open ending, yaitu penonton diberikan kesempatan untuk menentukan ending dari film ini sendiri. Overall, film ini sangat bagus dan di rekomendasi. Membawa kita untuk melihat pada diri sendiri apakah kita mempunyai kecenderungan untuk menyimpang kenangan atau being a let it go person. Rate dari aku 8,5/10.

Penulis : Aulia Ashudi – Warga Sipil

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan