HIDUP DI PERSMA KARENA PANGGILAN JIWA?

Oleh: Binti Muroyyana Amaiyah

Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul: dari manakah “panggilan jiwa” berasal? Apa itu jiwa? Siapa/apa yang memanggil apa/siapa? Seseorang pernah mengatakan pada saya bahwa panggilan jiwa berarti mati. Sebab, orang yang dipanggil jiwanya akan “mati”. Barangkali itu benar. Barangkali juga tidak. Benar, ketika orang yang mengaku bertahan di suatu ruang organisasi (pers mahasiswa/persma) macam saya karena alasan panggilan jiwa, telah merasakan suatu kematian. Benar, ketika saya tidak merasakan apa-apa, hanya terus berjalan dan bertahan meski mengalami pesakitan. Seperti jasad minus jiwa yang melakukan aktivitas-aktivitas.

Saya baru menyadari bahwa saya telah salah sangka. Tak banyak mahasiswa yang tertarik pada pers atau jurnalistik. Jurnalisme tidak seksi di mata mahasiswa saat ini. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Siar, tempat saya dinobatkan sebagai awak pers persma, tak banyak memiliki anggota aktif. Tahun 2013 saya masuk LPM tersebut bersama lebih dari 30 mahasiswa lain. Sejak pertemuan pertama, para senior (baca: mereka yang lebih dulu bergabung) telah mengenalkan sebuah induk yang lebih besar: Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI). Salah satu tujuan khusus PPMI adalah membantu perkembangan LPM. Sudah menjadi tradisi, pengurus PPMI dimintai tolong untuk mengisi diklat, upgrading, atau diskusi di LPM. Tak hanya pengurus PPMI, antar-LPM juga sering saling undang untuk mengisi materi dan diskusi di LPM-LPM lain. Sungguh hubungan yang indah.

Hal-hal luar biasa tentang persma telah dikenalkan sedari awal. Berbagai materi dan pelatihan diberikan pada kami, anak-anak magang-lugu pada waktu itu. Namun, di tengah perjalanan satu per satu anggota menghilang. Alasannya beragam: mulai dari malas, tugas kuliah menumpuk, bingung membagi waktu di banyak organisasi, dan berbagai alasan defensif lain.

Saat angkatan saya harus mengambil peran sebagai direktur (Pemimpin Umum/PU), hanya tersisa tiga orang yang masih hidup dan sedia berjuang. Di beberapa LPM lain pun demikian, tak jauh beda dengan LPM Siar. Tak hanya di LPM, krisis serupa sudah menjadi momok di banyak organisasi kampus. Waktu telah memakan habis semangat para anggota semua organisasi yang lemah iman, terutama di tubuh LPM. Saya jadi berpikir keras. Di mana pesona persma? Tidakkah mahasiswa sekarang tertarik dengan proses bernalar kritis di sebuah lembaga berbasis literasi? Atau modernitas sudah menimang manja mereka supaya jadi apatis dan mudah tunduk?

Ketika awal masuk persma, saya berpikir akan menjadi orang keren di sana. Para senior sering menanamkan doktrin bahwa sebagai insan persma kami harus berani, harus merdeka, harus idealis, harus ini, harus itu, dan segala keharusan positif lain. Sejujurnya saya takut. Saya bukanlah orang dengan karakter persma yang telah disebutkan para senior. Saya bukan orang yang pemberani. Saya tak yakin akan mampu hidup di tempat keras seperti yang diceritakan para senior. Namun, entah karena apa justru saya mampu bertahan hingga akhir, bahkan sampai detik ini. Dengan mudahnya saya dibuat bingung oleh keadaan bahkan setelah melepas status mahasiswa, saya masih bertahan di dunia ini.

Waktu berlalu dan hari berganti. Setiap generasi memiliki masanya masing-masing. Setiap generasi menghadapi tantangan masing-masing. Jejaring di persma juga mengalami lika-liku. Senioritas yang seringkali disebutkan tidak ada di persma, ternyata salah. Sedikit banyak hal itu mesti ada. Memang benar, semua sama-sama belajar. Tetapi, senior seringkali lebih unggul karena mereka lebih dahulu bergelut di sana. Mereka telah lebih dahulu mengais pengalaman di persma, dan menumpuknya tinggi menjadi kursi senioritas yang bisa gagah diduduki. Jelas itu tak bisa dibantah oleh para junior. Siklus tersebut ada dan akan terus bergulir seperti kekekalan energi.

Biarpun senioritas seringkali terjadi demikian, tapi saya menulis ini bukan lantas karena merasa ahli menjadi seorang senior. Sama sekali bukan. Bahkan sebaliknya, ada semacam anomali dalam diri saya sebagai seorang senior. Bergelut di dunia persma sejak masih mahasiswa baru, bahkan hingga lulus, telah memunculkan banyak pertanyaan dalam pikiran saya. Masih ada begitu banyak masalah yang harus diselesaikan bersama. Semakin saya mendalami persma, semakin saya merasa kecil dan kurang.

Para senior sering mengatakan bahwa bergelut di dunia persma adalah perjuangan. Perjuangan melawan ketidakadilan. Rasanya kalimat itu terlalu berat. Saya pun semakin berpikir keras saat seorang kawan mengajak saya masuk dalam jajaran kepengurusan PPMI. Sebab, di sana, saya dapat bertemu dengan banyak orang, mulai dari yang masih baru hingga yang sudah sangat berpengalaman. Saya menemukan beberapa orang yang mengeluh ini dan itu tentang LPM-nya. Saya juga menemukan beberapa orang yang mampu memberikan solusi untuk masalah-masalah tertentu di persma. Hal-hal tersebut membuat saya banyak merenung. Kadang saya merasa menyesal karena tidak sedari dahulu memperluas jaringan di persma. Selain itu, akhirnya saya memahami bahwa perjuangan dan pengorbanan yang harus dilakukan oleh insan persma tidak selalu berupa pergerakan di jalan atau dengan tulisan. Namun, jauh lebih luas daripada itu.

Perjuangan lebih luas macam apa? Tenaga, biaya, pikiran, waktu, dan pengorbanan yang seringkali kita lakukan ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan. Demikianlah perjuangan. Perjuangan yang bukan berarti harus penuh darah, luka, dan keringat. Bukan pula berarti harus memiliki fisik kuat dan energi yang lebih. Hadir dan aktif menghidupi persma dan selalu mendukung kawan-kawan seperjuangan pun juga merupakan perjuangan. Perjuangan adalah ketika kita mampu mengerahkan dan menyerahkan apa yang kita punya untuk kebaikan bersama.

Lalu, dari manakah “panggilan jiwa” berasal? Apa itu jiwa? Siapa/apa yang memanggil apa/siapa? Barangkali seseorang itu salah. Bahwa jiwa ini bukan berarti ruh secara utuh, yang ketika dipanggil Sang Pemiliknya kita akan mati. Seorang saudara mengingatkan saya bahwa jiwa adalah sebutan multitafsir yang pada dasarnya bisa kita maknai sebagai banyak hal: akal budi, nurani, spiritualitas atau pun eksistensi manusia. Saya lebih suka memaknai “panggilan jiwa” sebagai sebuah emosi yang menggerakkan diri dari dalam nurani setiap manusia, dari hati kecil yang paling dalam. Hakikatnya ia berasal dari Tuhan, tapi meminjam bahasa sastra-filosofisnya, ia berasal dari Roh Alam. Setiap jiwa bersatu dan saling terhubung dengan Roh Alam.

Barangkali seseorang itu salah ketika menganggap terpanggilnya jiwa saya berarti mati. Berprosesnya saya di LPM Siar tidak secara tiba-tiba. Roh Alam telah menuntun saya melalui panggilan jiwa. Sejatinya saya hidup di sana. Saya juga menghidupinya. Hanya saja, kerasnya iklim sebuah organisasi membuat saya hampir tersungkur beberapa kali. Tapi itulah intinya: pelaut handal tidak lahir dari laut yang tenang. Panggilan jiwa selalu menuntun ke arah positif. Panggilan jiwa selalu mengarahkan kita pada dimensi di mana seharusnya kita memang harus berada di sana. Panggilan jiwa selalu menghidupi.

sumber gambar: ayopreneur.com

Total
0
Shares