“HOAX Itu Biasa-Biasa Saja”

Berada dalam satu lokasi yang bersebelahan dengan taman kanak-kanak, ada sebuah rumah kuno berasitektur khas zaman kolonial Belanda. Dulu saya belajar mewarnai, menggambar, membaca, menulis dan bermain petak umpet di TK tersebut. Rumah tua yang disanggah dengan tiang-tiang besar nan kokoh di depan TK adalah tempat favorit untuk bersembunyi. Terasnya luas dan banyak memiliki ruangan yang tetap gelap meski di siang hari. Sedikitnya cahaya matahari yang masuk, menjadikan rumah tua sebagai tempat terbaik untuk bersembunyi saat bermain petak umpet.

Pada hari-hari aktif TK, rumah tua itu akan selalu ramai. Jika tidak bermain petak umpet, anak-anak tetap banyak yang bermain di teras yang luasnya melebihi ruang kelas di TK. Tapi tidak di malam hari. Selain karena tidak ada aktivitas TK, bagi kami warga sekitar, rasanya ada yang janggal dengan rumah itu. Rumah tua di malam hari sangat gelap dan sepi. Lokasinya yang sekali pun di pinggir jalan utama tidak mampu mengusik sepi di rumah tua.

Banyak pedagang kaki lima di sepanjang trotoar jalan utama. Mereka tidak memilih berjualan di depan rumah tua. Ada banyak kabar aneh tentang rumah tua dan sedikit yang saya ingat. Seusia saya dan teman sebaya kala itu, cerita adanya hantu di rumah tua tentu yang paling membekas dan membuat kami takut. Tidak jelas hantu seperti apa yang diceritakan orang-orang. Yang pasti, selain karena anak-anak sibuk mengaji di malam hari, pun jika ada waktu untuk bermain, kami tidak akan menyempatkan diri untuk bermain di teras rumah tua. Hanya karena hantu-hantu di televisi yang kami tonton sewaktu kecil –bahkan sampai saat ini- hanya muncul di malam hari, tak ada perasaan khawatir bermain petak umpet di rumah tua pada waktu siang.

Rumah tidak berpenghuni dan dianggap angker sepertinya tidak hanya ada di kampung halaman saya. Barangkali setiap kampung memiliki rumah angkernya sendiri. Sebuah fenomena yang sudah dianggap lumrah keberadaannya. Juga tidak sedikit karya-karya seperti buku dan film yang mengangkat tema rumah angker.

Jan Newberry dalam bukunya yang berjudul Back Door Java hasil penelitiannya selama 15 tahun di Indonesia untuk gelar doctoral juga mengisahkan tentang rumah kontrakannya yang  tidak pernah disewa orang lain sebelumnya karena dianggap angker. Mayoritas masyarakat Yogyakarta saat Jan Newberry kala itu, masih meyakini bahwa rumah yang tidak memiliki pintu belakang banyak dihuni oleh hantu.

Kini rumah bekas Belanda di dekat TK saya itu sudah berganti sebagai kantor desa. Arsitekturnya pun sudah bergaya modern. Fisik bangunan berubah total. Tak segagah sekaligus seseram sewaktu saya TK. Dulu saya dan mungkin juga teman-teman saya tak sempat berpikir kenapa bangunan sebesar dan terkesan mewah pada zamannya itu, justru ditelantarkan. Beberapa pertanyaan tentang rumah tua dewasa ini: kenapa tidak dijual saja kalau tidak mau ditempati? Bisa juga diajukan kepada pemerintah untuk dijadikan sebagai cagar budaya, atau kalau saya ingat-ingat luasnya, mungkin cukup untuk menambah empat ruang kelas lagi untuk taman kanak-kanak.

Apakah pertimbangan yang saya sampaikan baru saja -di masa kini- tidak bisa dilakukan karena memang benar-benar ada hantu di rumah tua itu? Akan banyak muncul pertanyaan tentang rumah-rumah yang dianggap angker: kenapa dianggap angker? Ada apa di dalamnya? Kalau iya ada hantu, hantunya seperti apa? Bagaimana cerita si hantu semasa hidup hingga matinya gentayangan? Setidaknya itu pertanyaan saya di masa kecil dan sesekali di masa ini saat menonton film tentang rumah yang angker. Pertanyaan yang muncul dari mayoritas anak-anak. Objek masyarakat yang paling rentan termakan isu rumah angker.

Faktanya, cara berpikir yang dituangkan seperti pertanyaan-pertanyaan di atas, dewasa ini tidak hanya dimiliki oleh kalangan anak-anak. Tidak ada seorang pun yang imun terhadap hoax. Orang dewasa, yang notabene sudah menempuh pendidikan dan mencatat pengalaman pribadinya dalam kurun waktu cukup lama, juga tidak menutup kemungkinan menjadi korban hoax. Hingga pada ranah kekayaan literasi, hoax menjadi hal buruk yang tidak bisa kita pungkiri keberadaannya.

Dalam artikel yang diterbitkan tirto berjudul Belajar Hoax dari Prof. Alan Sokal, kita bisa melihat bahwa Social Text, sebuah jurnal ternama di Amerika Serikat juga pernah menerbitkan paper hoax. Pada edisi ke-46/47 Spring-Summer 1996, Social Text mempublikasikan paper berjudul Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity. Paper itu ditulis Alan Sokal, seorang profesor fisika di New York University dan profesor matematika di University College London. Hingga beberapa minggu kemudian melalui jurnal yang berbeda yaitu Lingua Franca, Alan Sokal membeberkan sendiri ke-hoax-an dari papernya.

Sokal dengan sengaja membuat paper hoax sebagai kritik tersendiri terhadap pemikir postmodern. Paper tersebut sengaja ia tulis secara asal-asalan untuk menguji standar intelektual akademisi humaniora Amerika Serikat. Rumusan masalah yang diajukannya cukup sederhana. Sokal merumuskannya begini: “Akankah jurnal kajian budaya ternama di Amerika mempublikasikan sebuah artikel yang penuh omong kosong jika (1) Terkesan bagus dan (2) Sejalan dengan pra-konsepsi ideologi para editor jurnal?”

Pertanyaan Sokal pun terjawab. Paper hoax itu diterima dan dipublikasikan oleh Social Text yang didirikan oleh tiga akademisi, yakni John Brenkman, Stanley Aronowitz, dan Fredric Jameson (seorang pemikir posmodern yang banyak dikutip dalam studi kajian budaya).

Dalam jurnalnya yang diterbitkan Lingua Franca, Sokal memaparkan hasil eksperimennya yang berhasil menerangkan bahwa ternyata beberapa sektor akademik Amerika Serikat tidak tangkas secara intelektual. Hal tersebut terjadi karena, menurut Sokal, editor Social Text menyukai artikelnya hanya karena ia memiliki kesimpulan yang sesuai dengan ideologi para editor, yakni konten dan metodologi sains posmodern menyediakan dukungan intelektual yang kuat untuk proyek politik progresif.

Kita dalam kondisi di mana hoax ada di sekitar kita tanpa kita sadari. Baik itu untuk kepentingan politis ataupun isu belaka yang tidak mudah kita simpulkan tujuannya dalam waktu singkat. Hoax bukanlah makanan layak konsumsi. Bukannya karena basi, tapi karena ada racun yang terkandung di dalamnya. Racun yang ada pada hoax tidak hanya selesai pada ranah penyakit kesesatan berpikir si korban. Penyakit kesesatan berpikir tersebut bisa berlanjut di tahap kronis hingga tahap kesalahan bertindak.

Satu contoh seperti apa yang terjadi pada kasus penyerbuan ratusan massa ke kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) pertengahan September lalu. Acara bertajuk #AsikAsikAksi yang menghadirkan penampilan-penampilan musik dan pembacaan puisi, dituding sebagai agenda konsolidasi orang-orang komunis di Gedung YLBHI. Massa yang brutal karena termakan isu hoax mengepung dan melakukan pelemparan batu ke kaca-kaca gedung. Akibatnya puluhan lansia terperangkap, tidak berani keluar dari dalam gedung.

Ada hoax di kampung-kampung, di kepemerintahan, sampai di wilayah bernuansa akademik yang konon ketat verifikasi sampai anti plagiasi. Ada hoax di mana-mana. Jadi hoax biasa-biasa saja. Yang tidak biasa, kalau kita sadar di menu sarapan kita ada hoax. Yang luar biasa, kalau hoax itu bisa dilawan. Lebih luar biasa lagi, hoax dibumihanguskan. Mustahil.

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan