Kasus Pers Mahasiswa adalah Bahan Bakar

Awak pers mahasiswa (persma) dalam melaksanakan tugas-tugas jurnalistik acap kali menerima tindak kekerasan dari subyek yang merasa dirugikan dalam sebuah tulisan. Beragam tulisan yang dihasilkan awak persma dianggap mengandung sentimen Suku, Agama, Ras, Antar Golongan (SARA), fitnah, dan menyudutkan kepribadian seseorang.

Kemarin 9 November 2017 awak persma Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ro’yuna Univeristas Islam Negeri (UIN) Mataram bernama Idham tersandung kasus persekusi karena menulis. Kasus tersebut melibatkan organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Mataram sebagai subyek yang merasa dirugikan. Mengacu pada informasi yang saya dapat dari kawan di Mataram, bahwa PMII tidak terima atas opini Idham yang berjudul “Berhenti Membuli PMII” di Buletin Egaliter yang terbit pada 5 November 2017, karena dianggap menyudutkan PMII.

Analisis saya pribadi ketika membaca opini yang dibuat oleh Idham, substansi tulisan memang menyudutkan PMII. Dalam kacamata subyektif semisal saya di pihak PMII, saya akan tersinggung dikarenakan diksi-diksi yang dipakai dalam opini tersebut memang mengundang kemarahan. Wajar ketika PMII ingin mengklarifikasi tulisan tersebut. Akan tetapi, tuntutan yang dilakukan oleh pihak PMII melewati hingga batas kewajaran.

PMII menuntut Idham mengakui kesalahannya dengan cara memberi beberapa pilihan yaitu menyelesaikan perkara di “meja hijau” atau mengelilingi kampus UIN, jelas Idham memilih opsi kedua. Idham melakukannya terpaksa dengan memakai kalung didada yang bertuliskan “Minta maaf nama pribadi untuk PMII” sambil membawa bendera PMII dan diarak di wilayah UIN Mataram. Selain itu, Idham juga mengaku mendapatkan perlakuan yang sangat tidak terpuji yang dilakukan oknum yaitu menyempatkan menampar pipi Idham saat berada didalam kerumunan massa. Kemudian setelah arak-arakan selesai, kedua belah pihak berjabat tangan. Namun yang begitu mengherankan, beberapa jam kemudian Idham mendapat info dari pesan melalui WhatsApp (WA) bahwa Senin mendatang PMII akan melakukan aksi lanjutan, yang artinya kasus diperpanjang oleh PMII. Hal ini tentu membawa dampak buruk terhadap kondisi fisik dan psikis Idham secara personal.

Kasus ini tidak dapat dibenarkan salah satu dari dua subyek yang bermasalah antara Idham dan PMII karena keduanya sama-sama memiliki kesalahan. Sebuah pelajaran penting khususnya bagi Idham dan awak persma pada umumnya untuk berhati-hati dalam menyusun sebuah tulisan. Hendaknya awak persma bekerja berlandaskan kode etik pers mahasiswa serta memegang teguh idealisme dan prinsip-prinsip jurnalisme.

Begitu pun PMII, sebagai subyek yang merasa dirugikan tidak sepatutnya melakukan hal-hal yang semena-mena diluar batas kewajaran. Dalam menyikapi kasus yang berkaitan dengan pers, seharusnya pihak yang merasa dirugikan mengajukan hak jawab dan hak koreksi serta dikoreksi oleh lembaga pers yang bersangkutan sebagaimana peraturan yang tercantum dalam UU Pers Nomor 40 Tahun 1999. Sebelum meletus peristiwa tersebut, informasi yang saya dapat menyatakan bahwa LPM Ro’yuna telah mencapai sebuah kesepakatan dengan PMII untuk mengklarifikasi melalui tulisan dengan menampilkan koreksi pada buletin yang sama tempat dimana opini idham dimuat. Namun secara tiba-tiba PMII terlalu dini mengepung sekretariat LPM Ro’yuna dan mengarak Idham keliling kampus. Hal ini yang justru mencoreng nama baik PMII sendiri sebagai organisasi yang bermatabat.

Tentu peristiwa ini menambah daftar panjang catatan kelam pers di Indonesia yang sering mendapatkan perlakuan tidak baik. Itu artinya, demokrasi di negara ini sedang berada dalam posisi terancam mengingat pers merupakan salah satu pilar dari empat elemen penyangga demokrasi selain eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Terjadinya kasus tersebut bukan berarti mampu mereduksi semangat awak pers mahasiswa untuk menulis, justru sebaliknya hal itu menjadi bahan bakar persma untuk berbenah semakin kritis dalam menulis. Awak pers mahasiswa perlu untuk memaparkan data secara objektif dalam menulis. Namun obyektivitas hanyalah memperkuat data dan tulisan, di sisi lain subyektivitas tetap memegang peran penting karena menulis opini merupakan manifestasi dari berhasilnya seorang manusia menemukan jati diri dan menangkap realita.

Selain itu, kondisi tersebut justru menyulut terciptanya api gerakan-gerakan sosial yang secara massif dilakukan oleh awak persma di berbagai penjuru Indonesia. Dalam beberapa jam, sudah sangat banyak sekali informasi di linimasa beredar informasi tentang aktivitas-aktivitas persma dalam menyikapi kasus tersebut. Konsolidasi di kota-kota mulai dilakukan guna menyikapi kasus yang dialami oleh LPM Ro’yuna serta sebagai upaya dalam memberikan penguatan advokasi secara nasional, karena ancaman kebebasan berpendapat yang LPM Ro’yuna alami berarti mengancam kebebasan berpendapat seluruh LPM di Indonesia.

Total
0
Shares
1 comment
  1. Mhn mf sebelumnya.. silahkan cari tahu terlebih dahulu mengenai statment yg mengatakan bahwa si idham itu pernah di tampar atau tidak, ada buktikan..?? Ada saksikah..?? Krna barometer info yg di dapat itu harus berdasarkan bukti dan saksi yg jelas dan cukup. Jdi jangan memecahkan masalah dengan memunculkan masalah baru.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: