Mari Dobrak Stereotip Negatif tentang Sampah

Oleh : Yesica Vina Damayanti

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia setelah Tiongkok, India dan Amerika serikat. Berdasarkan data Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), jumlah penduduk Indonesia pada 2018 mencapai 266,79 juta jiwa dan diprediksi akan terus mengalami pertumbuhan hingga mencapai puncaknya pada 2062 dengan jumlah 324,76 juta jiwa. Populasi dan standar gaya hidup manusia meningkat seiring perkembangan zaman. Dalam buku berjudul Sustainable Industrial Design and Waste Management, El Haggar menyatakan bahwa semakin maju dan sejahtera kehidupan seseorang maka akan semakin tinggi jumlah sampah yang dihasilkan.

Kepada Jaringan Pemberitaan Pemerintah, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (B3) Rosa Vivien Ratnawati mengatakan setiap orang menghasilkan sampah 0,7 kg/hari. Volume sampah di Indonesia selama 2018 diperkirakan sebesar 66,5 juta ton. Pernahkah membayangkan kemana semua sampah akan berujung? Sampah-sampah ini apabila tidak dikelola secara tepat akan memenuhi banyak ruang, bahkan berpotensi mencemari lingkungan. Menurut Kholil (2004) dalam Saribanon (2009), pengelolaan sampah di masa yang akan datang perlu lebih dititikberatkan pada perubahan cara pandang dan perilaku masyarakat dan lebih mengutamakan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaannya (bottom-up) sebab terbukti pendekatan yang bersifat top-down tidak berjalan secara efektif.

Perubahan cara pandang perlu digaris bawahi. Bagi sebagian masyarakat, sampah terkesan seperti sesuatu yang tidak memiliki nilai guna lagi sehingga menimbulkan stereotip bahwa sampah harus segera dibuang. Padahal, barang-barang yang dianggap sampah masih bisa dikelola secara zero waste. Sesuai namanya, prinsip ini berusaha menekan jumlah sampah yang dibuang seminim mungkin.

Untuk sampah non organik yang sulit terurai seperti plastik, pengelolaan yang dapat dilakukan berupa daur ulang. Konsep zero waste juga mulai populer diadopsi dalam bidang fashion. Sampah organik dapat diolah salah satunya menjadi ecoenzymes. Eco-enzymes adalah solution kompleks yang dihasilkan dari fermentasi limbah dapur segar (ampas buah dan sayuran), gula (gula merah, gula jiggery atau molasses) dan air dengan perbandingan 1:3:10. Solution berwarna coklat gelap dan beraroma fermentasi yang kuat tersebut dapat digunakan sebagai pupuk atau diolah menjadi bahan pembersih. Pengelolaan menjadi ecoenzymes akan mengurangi produksi gas metana dan dalam pembuatannya menghasilkan ozon yang mampu mengurangi karbondioksida. Sebagaimana diketahui, metana dan karbondioksida dapat meningkatkan efek rumah kaca yang berperan dalam pemanasan global.

Masih ada banyak cara pengelolaan sampah yang dapat dilakukan. Misalnya; membuat kerajinan tangan dari limbah plastik, mengganti tas plastik untuk berbelanja dengan tas dari bahan kanvas atau bahan lain yang bisa digunakan berkali-kali, dan mengurangi penggunaan sedotan plastik lalu menggantinya dengan sedotan berbahan stainless steel. Kebijakan pemerintah turut berperan menyukseskan misi ini. Misalnya; bank sampah serta program sosialisasi dan edukasi tentang pengelolaan sampah. Cara sesederhana apapun tentu akan berdampak besar jika dilakukan secara berkelanjutan dan bersama-sama. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat sehingga produksi sampah dapat dikurangi.

Mari mulai beraksi untuk masa depan yang lebih baik!

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan