Mencari Jalan Tengah dari Komedi Yang Menyinggung

Siapa yang enggak kenal salah satu komika yang paling tersorot media televisi indonesia? tentu semua kenal dengan Coki Pardede sesosok yang lucu dan tentunya dengan dark jokes nya.

Tepat pada dihari Selasa 1 September 2021 kemarin, komika Reza Pardede alias Coki Pardede ditangkap oleh polisi di rumahnya atas dugaan mengkonsumsi narkoba berjenis sabu. Dalam penangkapan tersebut terungkap hasil pemeriksaan tes urine yang dilakukan terhadap komika itu dinyatakan positif amfetamin. Penangkapan Coki tersebut langsung direspons oleh jajaran Majelis Lucu Indonesia (MLI) dan Tretan yang juga menegaskan bahwa pihak MLI telah menyerahkan segala hal yang menimpa Coki kepada pihak berwajib.

Terungkapnya kasus Coki Pardede yang harus berurusan dengan polisi gara-gara mengkonsumsi obat-obatan terlarang membuat terkejut banyak pihak. Apalagi setelah diketahui bahwa Coki menggunakan sabu tersebut dengan cara yang tidak lazim, yakni menggunakan teknik booty bump dengan cara disuntikan lewat anus yang mengindikasikan adanya penyimpangan seksual yang terjadi dalam diri komika asal Depok tersebut.

Berbagai skandal yang terungkap dalam kasus ini membuat Coki mendapat perhatian lebih dari seluruh media massa yang meliputnya, bahkan beberapa orang mengeluhkan boomingnya kasus ini telah membuat beberapa kasus besar lainnya yang terjadi pada waktu bersamaan seakan teralihkan gara-gara penangkapan Coki ini.

Seperti kasus asusila yang menimpa seorang pegawai KPI, yang bahkan mendapatkan laporan balik dari si pelaku. Atau kebocoran data Electronic Health Alert Card (eHAC) yang seakan juga tenggelam akibat kemunculan kasus Coki Pardede ini.

Maraknya pemberitaan yang menyorot kasus narkoba ini telah menunjukkan bahwa Coki Pardede telah menjadi bagian penting dari kultur masyarakat dari karya-karya yang selama ini ia sampaikan lewat berbagai media. Namun posisi tersebut tidak terlepas dari sensasi yang telah Coki lakukan selama berada di panggung komedi Indonesia. Selama ini publik mengenal Coki Pardede sebagai komika yang sangat vokal dalam menyuarakan pendapatnya lewat format komedi dark jokes. Ide-ide yang disampaikannya kerapkali bersinggungan dengan isu-isu sensitif yang masih menempel di masyarakat. Dikemas dalam format komedi yang tentu saja bertujuan membuat orang tertawa, tetapi tidak sedikit orang-orang yang tersinggung dan menganggap jokes yang menyinggung itu sebagai ejekan bahkan olok-olok terhadap isu yang masih dianggap tabu untuk dijadikan bahan tertawaan.

Orang-orang yang telah berseberangan dengan Coki menganggap konsep komedi yang disampaikan oleh Coki terlalu liberal dan bermain-main dengan api. Dan sangat wajar memang apabila muncul anggapan seperti ini karena dalam perjalanan karir Coki telah tercatat berbagai isu sensitif yang membuat publik ramai dan berdebat kembali terhadap standar benar-salah dalam isu yang menjadi tidak jelas saat Coki bersuara.

Perdebatan soal dark comedy dan ketersinggungan kerap kali terjadi di ruang publik internet. Disatu sisi, publik meminta agar komedian memiliki sensitivitas lebih terkait topik yang dibicarakan, sementara disisi lainnya juga muncul suara-suara yang merasa komedi adalah praktik kesenian yang tidak sepatutnya diberi batasan.

Contohnya dalam kasus babi kurma, dimana Coki dan partnernya Tretan Muslim memasak daging babi dengan kurma dan madu yang membuat kemarahan publik terutama dari kalangan umat muslim. Perdebatan lalu muncul antara orang yang tersinggung dengan konten tersebut dengan para pendukung Coki dan Tretan pada saat itu. Menurut kelompok yang berhaluan, kurma dan babi memang tidak mempunyai agama namun ketika keduanya disandingkan dan dibubuhi makna yang secara substansi mempermainkan konsep halal dan haram maka akan melahirkan persepsi negatif yang memancing amarah umat muslim pada umumnya. Pendapat ini juga didukung dengan aturan dasar komunikasi dimana pemahaman manusia dapat terbentuk dari atribut dan tanda-tanda yang mudah dilihat. Atribut akan mempengaruhi narasi yang muncul terhadap isu tersebut dan akan naif apabila menolak aturan tersebut dengan alasan open minded.

Sedangkan disisi lain, pendukung kedua komika tersebut menganggap kubu yang berhaluan terlalu ketat dan serius dalam menanggapi sebuah komedi. Mereka menganggap bahwa acara masak-masak yang dibawakan Coki dan Muslim hanya sebatas satire dan sarkasme terhadap isu pecahnya persatuan dan intoleransi antar umat beragama yang belakangan ini kerap kali terjadi.

Karena kalau memang ingin meninjau dalam segi halal-haram, dalam video itu tidak ditampilkan Tretan atau kru muslim mengkonsumsi masakan yang sudah pasti hukumnya haram bagi mereka. Mereka juga beralasan bahwa bahan makanan yang digunakan tidak spesifik hanya diperuntukkan bagi umat islam saja, dan faktanya kurma dan madu yang erat hubungannya dengan kuliner timur tengah memang juga menjadi konsumsi umat beragama lainnya disana. Akan konyol kirannya apabila suatu ketika orang kristen mesir dianggap menista agama islam gara-gara memasak babi, kurma, dan madu untuk ia konsumsi sendiri, meskipun memang kemungkinannya hal itu terjadi sangat kecil.

Perbedaan pandangan dalam isu ini kerap kali diangkat kembali setiap kali kedua komika ini tersandung masalah. Dan kalau ditilik lebih lanjut satire yang disampaikan Coki dan Tretan dalam konten tersebut sebenarnya dapat dibilang berhasil menurut sudut pandang komedi. Karena mereka melakukan pushing the limit terhadap sesuatu yang belum pernah diangkat oleh siapapun menjadi konten komedi yang membuat sebagian viewernya tertawa.

Namun kelucuan ini hanya dapat dirasakan oleh pendukung MLI yang sudah mengetahui konsep komedi dark jokes yang dibawakan duo ini, sementara pada faktanya saat konten tersebut dibuat dan diupload untuk publik maka akan mengundang ketersinggungan dari viewer yang belum pernah mengenal kedua orang tersebut dan langsung menganggap mereka telah melakukan pelecehan terhadap umat muslim.

Gejolak yang terjadi pada saat itu menimbulkan keresahan baru, dimana komedian diminta untuk tidak menampilkan komedi yan menyinggung agar tidak muncul masalah baru dikemudian hari. Padahal Pandji Pragiwaksono selaku komika senior sendiri pernah mengatakan dalam acara Mata Najwa, “Jangan meminta pelawak berhenti menyinggung, karena pelawak tidak tahu apa yang membuat anda tersinggung”.

Komedian mengungkapkan keresahan mereka lewat komedi dalam rangka membuat orang tertawa. Kalau misalnya mereka mengangkat isu sensitif tanpa humor orang akan cenderung menganggap itu sebagai sebuah serangan. Seharusnya orang tahu bahwa lewat humor mereka berniat untuk membuat orang tertawa dan komedian berusaha menemukan celah komedi suatu isu tanpa ada niatan kebencian sedikitpun sebagai filter dari apa yang mereka coba sampaikan. Tetapi sepertinya meskipun demikian orang tetap tersinggung sehingga perlu adanya kajian lagi bagi komedian agar mereka semakin berhati-hati agar tidak membuat viewernya yang lebih sensitif sakit hati gara-gara humor yang mereka sampaikan.

Meskipun pandangan tersebut tentu secara tidak langsung menunjukkan ada kebebasan yang harus dikorbankan saat komedian diminta untuk membatasi keresahan yang mereka bisa sampaikan kepada publik di negara yang demokratis ini.

Coki Pardede sebagai duta dari humor dark jokes yang progresif dan out of the box namun meresahkan sudah tahu bahwa tindakannya suatu hari nanti akan menyerang dirinya sendiri. Berani bertindak menyuarakan isu-isu tabu yang sensitif bagi sebagian orang maka harus berani juga menerima resiko yang akan muncul nantinya. Dan saat ia telah tersandung kasus narkoba saat ini maka menjadi ironi dan satire tersendiri baik bagi seluruh kalangan yang pernah mendengarkan jokes yang disampaikan Coki dulu.

Publik juga berasumsi bahwa selama ini Coki sedang mencari pelampiasan akan masalah dalam hidupnya lewat dark jokes dan adiksinya terhadap narkoba merupakan manifestasi atas pelampiasan yang tak pernah surut yang mengikis moral dan sensitifitas yang ia miliki. Sehingga kombinasi keduanya merupakan suntikan adrenalin bagi Coki untuk membuatnya dapat bertahan dari beban hidupnya yang justru semakin teracuni akibat tindakannya tersebut. Maka diharapkan setelah kesembuhan Coki nantinya ia mampu memaknai hidupnya dan juga berkomedi dengan lebih berhati-hati agar tidak terlalu menyinggung suatu kelompok dengan materi komedinya saat keluar dari masa rehabilitasi nantinya.

Penulis : Syauki Bagus Mahendra – LPM basic.
Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan