Metafora Sebagai Pelacak Ideologi

Saat ini, kita tengah hidup pada zaman yang serba modern dengan terjadinya perubahan sosial yang begitu cepat sebagai era hiperrealitas.  Hiperrealitas merupakan suatu kondisi ketidakmampuan seorang manusia untuk memiliki kesadaran untuk membedakan realitas dan khayalan, sehingga suatu kebenaran dan kepalsuan sulit untuk dibedakan.  Fenomena ini dalam era modernisasi yang tidak terlepas dari perkembangan teknologi media menciptakan suatu problematika.  Hal tersebut dikarenakan penggunaan media sebagai teknologi simulasi atau bisa disebut sebagai penciptaan raelitas media yang tidak mengacu pada realitas dunia nyata menyebabkan munculnya politisasi media.

Politisasi media merupakan suatu upaya manipulasi yang dilakukan media guna memberikan pemahaman pada penggunanya dengan berlandaskan pada ideologi yang dianut.  Salah satu cara yang biasa digunakan dalam politisasi media yakni dengan pemanfaatan kemampuan bahasa.  Dalam era hiperrealitas seperti sekarang ini, bahasa memiliki peranan yang sangat penting karena tidak sekadar digunakan sebagai alat komunikasi semata, tetapi juga dimanfaatkan sebagai alat guna menunjukkan suatu kekuasaan dari pemakai bahasa.

Bahasa kini tidak lagi menjadi sesuatu yang netral karena memiliki tujuan yang tersembunyi (hidden purpose).  Tujuan penggunaan bahasa terutama dalam wacana media sering digunakan untuk menyembunyikan ideologi yang dianut, misalnya dalam metafora yang digunakan.  Setiap teks yang dimunculkan dalam media memiliki kecenderungan penggunaan piranti metafora untuk menyerang elite ataupun kelompok tertentu (Santoso, 2012:127).  Hal ini mengarah pada tujuan dari media tersebut untuk mempengaruhi persepsi masyarakat sebagai pembaca terhadap peristiwa atau keadaan yang dipaparkan.

Lantas, apa itu metafora?

Metafora adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan suatu makna dengan membandingkan suatu objek dengan mengganti hal lain yang dapat dibandingkan.  Metafora ini sering digunakan dalam bahasa media untuk mengonkretkan suatu konsep, mengaburkan makna, hingga berguna untuk menguatkan suatu pesan ideologi.  Penggunaan metafora disematkan ke dalam cara mengenai bagaimana suatu media mengonstruksikan fakta atau peristiwa yang terjadi.

Apabila kita amati wacana media di Indonesia banyak menggunakan piranti metafora untuk menyatakan suatu konsep yang hendak disampaikan dari suatu peristiwa peristiwa yang terjadi.

“Di Surabaya, puluhan nasabah ramai-ramai mendatangi kantor Bank Mandiri KCP Surabaya Graha Pena, Senin (19/3) siang.  Mereka mengurus pemblokiran rekening lantaran saldo mereka terkuras secara misterius.” Jawapos.com

Esensi wacana media tersebut merefleksikan fenomena yang sedang terjadi.  Penggunaan frasa terkuras secara misterius membandingkan sebuah kondisi yang yang penuh teka-teki yang diidentikkan dengan hal mistis.  Tentu saja, frasa tersebut membawa ideologi agar pembaca memaknai peristiwa tersebut itu dikaitkan dengan hal-hal mistis.

Memang, bisa dipercaya atau tidak bahwa pendayagunaan metafora seperti contoh di atas awalnya tampak ‘biasa-biasa saja’.  Namun, apabila dicermati lebih dalam ternyata berubah menjadi ‘lebih menggigit’ karena membawa suatu konsep yang hendak ditanamkan pada pemahaman pembaca terkait pesan yang disampaikan.  Hal yang menarik dari penggunaan metafora dalam wacana media di Indonesia, yakni produktifnya para penulis sehingga seringkali pembaca awam menerimanya secara ikhlas tanpa berpikir dan bersikap kritis.  Wujudnya adalah masyarakat secara mudah untuk menyetujui persuasi yang disajikan dari suatu informasi yang terdapat dalam media.

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan