Pandemi Covid-19: Sebuah Krisis Makna Kehidupan

“Sebenarnya hanya ada satu masalah filsafat yang benar-benar serius, yaitu bunuh diri. Dikatakan menjawab pertanyaan filsafat, apabila mampu menilai bahwa apakah hidup ini layak atau tidak layak untuk dijalani. Selebihnya apakah dunia memiliki tiga dimensi, apakah jiwa memiliki sembilan atau dua belas kategori, merupakan turunannya saja.” Kutipan ini adalah ungkapan Albert Camus dari esai pertamanya dalam buku Mitos Sisifus, yang mengupas tentang Yang Absurd dan Bunuh Diri.
Pandemi Covid-19: Sebuah Krisis Makna Kehidupan

Tampak bahwa bagi Albert Camus penilaian terhadap hidup ini layak atau tidak untuk dijalani adalah sangat penting untuk dipahami, mengingat dunia yang kita tinggali ini absurd adanya. Selama masa pandemi Covid-19, informasi tentang kematian begitu sering tampil di halaman utama media massa.

Kita setiap hari disuguhkan oleh media massa, informasi tentang orang-orang yang terinfeksi Covid-19, hingga orang meninggal dunia, dikuburkan dengan protokol kesehatan yang tampak sangat tidak manusiawi. Rasanya tidak keliru, jiak kita katakan bahwa media massa juga turut menyumbangkan rasa cemas kepada masyarakat, terkait informasi yang mereka sampaikan tentang perkembangan Covid-19, dari pada pandemi Covid-19 itu sendiri.

Media massa dalam menyampaikan informasi terkait pandemi Covid-19, telah membentuk opini publik tentang virus ini, dari bagaimana virus ini merasuk kepada orang, hingga reaksi-reaksi yang dialami oleh si-terjangkit secara internal di dalam tubuhnya dan bagaimana reaksi-reaksi eksternal yang diderita oleh si-terjangkit dalam merasakan bagaimana hubungannya dengan sesamanya.

Benar sekali jika media massa menginformasikan berita-berita demikian, tetapi jika informasi mengenai hal ini terlalu berlebihan diberitakan, maka yang terjadi adalah bukannya membantu masyarakat untuk tetap tenang dalam menghadapi pandemi ini, malah justru memperkeruh keadaan.

Media mssa saat ini hanya meneruskan informasi dari data statistik yang disampaikan oleh pemerintah, alih-alih mencari informasi diluar. Jurnalisnya hanya mencari informasi untuk membenarkan data-data statistik yang sudah ada.

Terlepas dari berita yang mencemaskan dan menakutkan yang berkenaan dengan pandemi Covid-19, yang ditampilkan di media massa, kemudian dibaca oleh masyarakat, ditambah lagi dengan keadaan yang mencemaskan seperti saat ini, membuat kebanyakan dari masyarakat yang sedang menjalankan isolasi mandiri, yang sedang menjalankan PSBB dan PPKM menjadi takut, depresi dan cemas berlebihan akan nasib hidupnya.

Dalam keadaan yang mencekam, ketika pikiran sudah tidak lagi dapat menemukan jalan keluarnya terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi, maka bunuh diri bisa jadi jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang mengalami ketercekaman itu.

Menurut Albert Camus, “keabsurd-an hidup itu berkenaan dengan hubungan kita denga diri kita sendiri, hubungan kita dengan sesama kita dan hubungan kita dengan dunia.”

Rasa-rasanya begitulah pandemi Covid-19 ini menghantam kita. Pandemi Covid19 membuat kita seperti berpikir ulang tentang hubungan kita dengan diri kita, dengan sesama kita dan dengan dunia ini.

Singkatnya kita mengevaluasi relasi kita dan tepat karena itulah lahirnya rasa absurd akan terus hidup, begitu yang kita rasakan. Ya adalah kesadaran, yang membuat kita akhirnya mengerti akan keabsurdan hidup kita ini, tetapi kita yang menemukan diri kita di dalam keadaan absurd itu ingin mengatasi keadaan, dan ketika keadaan tidak bisa diatasi maka kita menjadi takut dan akhirnya membawa kita lari keluar dari cahaya kehidupan dari dunia ini. Bunuh diri. Berkenaan dengan bunuh diri di tengah pandemi Covid-19, World Healty Organisation (WHO) yang kahwatir dengan kemungkinan meningkatnya angka bunuh diri, telah membuat sebuah program yang bernama Live-Life.

Live-Life merupakan serangkaian pedoman yang dibentuk untuk memberikan pedoman kepada masyarakat dunia yang sekarang tengah menghadapi kecemasan karena Covid-19, tujuannya adalah untuk mencegah peningkatan angka bunuh diri.

Berdasarkan pengamantan-pengamatan yang dilakukan oleh badan kesehatan dunia. Pada tahun lalu, angka bunuh diri telah mengalami penurunan yang cukup baik, tetapi pada tahun ini, melihat timbulnya rasa kecemasan, ketakutan serta perasaan yang ditinggalkan, akibat dari diberlakukannya isolasi sosial selama berbulan-bulan, maka organisasi kesehatan dunia pun membuat pedoman-pedoman semacam Live-Life.

Dibeberapa negara lain, kita telah mendengar bahwa kecemasan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 telah memicu banyak orang untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Jepang selama masa pandemi telah mengalami peningkatan angka bunuh diri, terutama para wanitanya. Singapura pun juga mengalami hal serupa. Selama masa pandemi Covid-19 ini, angka bunuh diri di negara tersebut jika dilihat perkembangannya dari tahun 2012 hingga tahun 2020 lalu, telah mengalami peningkatan, dan pada tahun 2020 lalu, adalah yang paling tinggi.

Bagaimana dengan Indonesia sendiri, apakah baik-baik saja? tentu saja tidak! Berdasarkan data dari Persatuan Dokter Kesehatan Jiwa Indonesia (PDKJI), dalam lima bulan pertama mewabahnya pandemi Covid-19 di Indonesia, tercatat telah banyak ditemukan masalah psikologis pada orang dengan usia 17 sampai 29 tahun dan lansia yang berusia 60 tahun.

Dengan masalah tersebut, muculnya pemikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri paling banyak dialami oleh orang-orang dengan usia produktif. Dengan sebanyak 15 persen memikirkan untuk mati setiap hari dan 20 persen selalu memikirkan untuk mengakhiri hidupnya dalam beberapa hari dalam sepekan. Para penyintas Covid-19 pun banyak juga mengalami masalah psikologis yang serupa, karena penolakan-penolakan terhadap diri mereka.

Jika membaca di media massa hari-hari ini, maka kita akan menemukan berita yang seperti ; dilansir dari laman Kompas-TV, seseorang pria di Ponorogo mengakhiri hidupnya ketika sedang menjalani isolasi mandiri, lantaran setres karena istri dan adiknya meninggal terinfeksi Covid-19.

Berdasarkan laporan yang dilansir dari kompas.com, seseorang pria berusia 39 tahun dengan inisial WA dari Desa Conto, Kecamatan Bulu diduga telah melakukan bunuh diri karena istrinya meninggal ketika sedang menjalani isolasi mandiri. Laporan berikutnya datang dari republika.co.id yang melaporkan bahwa, seseorang wanita di Jakarta, yang terinfeksi Covid-19 telah melakukan aksi bunuh diri dengan cara melompat dari lantai tiga rumahnya lantaran setres sebab dirinya divonis terinfeksi Covid-19. Dari kota Jakarta juga.

Berita yang dilaporkan oleh tempo.com ini mengungkapkan, seseorang pria berinisial S, berusia 85 tahun warga Bandengan Tambora Jakarta Barat, melakukan percobaan bunuh diri dengan cara menyayat lehernya, tapi untung saja aksinya tersebut gagal. Beberapa kasus yang disebutkan itu, hanya merupakan bagian kecil saja dari banyak kasus yang telah terjadi, dan tentunya ini merupakan sebuah ketragisan kehidupan kita.

Apakah mereka yang telah melakukan aksi pencobaan bunuh diri dan bunuh diri itu adalah orang-orang yang lebay dan alay dalam menyikapi hidup ini, tentu saja tidak.

Pada kenyataannya kehidupan ini memang tidaklah muda untuk dijalani. Terlebih lagi jika keadaan hidup yang kita hadapi (seperti pandemi Covid-19 ini), membuat kita menjadi sadar akan keadaan hidup yang sebenarnya, yaitu bahwa hidup ini adalah absurd adanya.

Dihadapkan pada kenyataan dunia ini, bahwa kita telah kehilangan orang-orang yang kita cintai karena pandemi Covid-19, rasa sakit, marah, takut, cemas dan ketidakterimaan kita terhadap kenyataan bahwa kita telah terinfeksi Covid-19 dan kenyataan bahwa kita adalah kepala keluarga yang harus melakukan tugas-tugas untuk memenuhi kehidupan keluarga, yang di tengah pandemi ini menjadi terhambat, sehingga menjadi tidak lancar untuk dilakukan atau malahan sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa, sebab diberlakukannya pembatasan sosial.

Semua fakta-fakta itu, membuat kita menjadi sadar bahwa sebenarnya kita ini ternyata begitu rentan, dan kehidupan yang kita hidupi di dunia ini ternyata kalo dipikir-pikir lagi, tidak ada maknanya, tidak ada artinya. Semuanya tampak sia-sia saja.

Dalam keadaan yang seperti itu, saat pikiran tahu bahwa hidup ini ternyata sia-sia saja, maka lahirlah ketragisan hidup itu, disanalah datang goda-an untuk lari dari cahaya kehidupan dunia ini, mati dengan cara membunuh diri sendiri.

Dr. Agustinus Setyo Wibowo dalam (Majalah, Basis : 11/12, 1970) mengatakan, “kehidupan kita yang absurd ini mirip jebakan betmen, sekali kita masuk kedalamnya kiat tidak bisa keluar lagi.”

Absurditas menghadirkan dua konsekuensi. Pertama, penolakan terhadap ide-ide besar yang sudah mapan atau filsafat (karena ide besar yang sudah mapan atau filsafat itu memiliki pretensi untuk menjelaskan realitas) yang menawarkan lompatan keluar dari jebakan betmen atau absurditas itu.

Yang kedua, penolakan atas bunuh diri. Alasanya adalah, bunuh diri pun sebenarnya adalah bentuk solusi untuk melompat keluar dari jebakan betmen atau absurditas hidup itu. Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan ketika rasa absurd begitu kuat menyesak dada?

Camus berkata: “kita harus tetap bertahan di kedalaman rasa absurd itu sendiri. Janganlah mencari solusi, sebab solusi adalah berarti undur diri dari yang absurd itu. Yang absurd adalah kehidupan itu sendiri, jadi jiak kita undur dari yang absurd, berarti kita undur pula dari kehidupan.”

Pandemi, bencana alam, perang dan wabah kelaparan, apakah hanya kejadian yang pernah terjadi pada masalalu saja, atau masa sekarang saja ataukah pada masa depan saja, yang seolah-oleh jika sudah pernah terjadi, tidak akan pernah terjadi lagi, atau jika belum pernah terjadi hanya akan terjadi pada masa depan saja. Apakah begitu? pada kenyataannya pandemi, bencana alam, perang dan wabah kelaparan selalu saja ada dalam setiap fase kehidupan kita di dunia ini, selalu berulang-ulang.

Menurut Albert Camus, “absurditas itu bukan hanya tentang kemalangan nasib yang sudah disebutkan, namun kebahagiaan hidup serta matahari yang hangat juga adalah bagian dari absurditas, sama seperti kemalangan hidup itu sendiri.”

Senada dengan Pengkhotbah yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di bawa kolong langit ini tidak ada yang baru, Albert Camus mengatakan bahwa dunia dengan segala fenomenanya ini akan selalu seperti ini, sebuah fenomena yang disebutkan oleh Frederick Nietzsch sebagai kekembalian yang abadi, maka Albert Camus mengatakan kepada kita bahwa yang absurd itu bukan untuk diatasi, tetapi untuk dihadapi.

Penulis : Fenansio Deyesus - LPM Papyrus
Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan