Rasimun Sang Maestro Kesenian Payung Mutho

Payung Mutho. Rasimun (97), seniman Payung Mutho sedang melukis payung tempo dulu di kediamannya, Kota Malang.
Payung mutho Malang

“Sluku-sluku bathok, bathok e elo-elo, Si Rama menyang Solo, Oleh-oleh e Payung Mutho.”

Rasimun (97) melirihkan sepenggalan syair tembang yang bertajuk Sluku-Sluku Batok. Seorang Pria yang usianya hampir satu abad ini, mengatakan tembang ini lah asal nama Payung Mutho merupakan gubahan syair dari Sunan Kalijaga yang bermakna perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Rasimun menjelaskan bahan pembuatan Payung Mutho masih cukup sederhana. Payung tersebut dibuat dari kertas dan bambu sebagai rangkanya dengan dilapisi cat yang mengandung minyak, sehingga tahan terhadap air.

“Kangge wong biyen, payung iki gae udan-udanan (Buat orang dulu, payung ini digunakan saat hujan-hujanan),” ujar Rasimun.

Pria asal malang ini menuturkan bahwa payung yang berbahan dari kertas ini, dulu pernah eksis dan seringkali digunakan oleh masyarakat dalam upacara adat, barang untuk sajen, properti tarian tradisional dan ditaruh pada tempat suci maupun tempat ibadah.

Dalam sepak terjang seniman asal Lowokpadas, Pandanwangi, Kota Malang. Seorang Rasimun memperoleh penghargaan dari Sri Paduka Mangkunegoro IX Kasunanan Surakarta dan Mataya saat acara Festival Payung Nasional yang digelar di Surakarta, pada empat tahun lalu. Atas penghargaan tersebut lah, Rasimun dinobatkan menjadi Maestro Seni Payung Indonesia.

Sejarah Payung Mutho

Mbah Mun sapaan akrabnya, menuturkan Payung Mutho adalah payung tempo dulu. Payung tersebut dibuat oleh seorang seniman kelahiran asal Malang, Jawa Timuryaitu Rasimun (97). Mbah Mun, telah membuat Payung Mutho selama 76 tahun yang dimulai pada tahun 1945 saat awal Soekarno menjabat sebagai presiden Indonesia. Payung ini asal mulanya dari orang Sidoarjo-Tanggulangin yang menyelamatkan diri ke tempat tinggal Rasimun akibat kedatangan Belanda ke Surabaya.

Orang Sidoarjo yang mengungsi di Malang juga singgah ditempat tinggal Rasimun. Selama di sana, orang Sidoarjo membuat Payung Mutho, yang kemudian Rasimun mempelajarinya.

“Wong Sidoarjo teko kene, wong Sidoarjo gae Aku melok-melok ndelok, lah wong Sidoarjo balik, wong kene gae kabeh (Orang Sidoarjo datang ke sini, orang Sidoarjo membuat (Payung Mutho) Aku ikut-ikutan lihat, lah orang Sidoarjo balik, orang sini (warga kampung Rasimun) membuat semua),” Terang pria kelahiran Malang ini

Setelah Sidoarjo aman dari tekanan Belanda, orang Sidoarjo memutuskan kembali ke tempat asalnya. Rasimun beserta warga lainnya yang telah memperlajari membuat Payung Mutho dari orang Sidoarjo, kini melanjutkan untuk membuatnya.

“Sak kampung gae payung, mangkane celukane Kampung Payung (Sekampung membuat payung, mangkanya dipanggil Kampung Payung),” Tutur Rasimun.

Sejak itulah kampung kediaman Rasimun disebut sebagai Kampung Payung, karena semua dari warganya membuat Payung Mutho. Namun, kini teman-teman seperjuangannya telah berpulang dan hanya tersisa Mbah Mun saja.

Upaya Alih Genarasi Payung Mutho

Rasimun merupakan satu-satunya pengrajin payung kertas di Malang, kini berupaya untuk mewariskan Payung Mutho kepada anak-anaknya. Rasimun juga mengajarkan kepada kedelapan anaknya beserta cucu-cucunya cara membuat Payung Mutho mulai dari nol. Namun, dari kedelapan anaknya tersebut, hanya anak kelima yang mahir dan didapuk sebagai penerus untuk melestarikan Payung Mutho.

“Seng nerusno bakale anakku, sak anak sak bojo e iso kabeh. Rusman iku bakal nerusno (Yang meneruskan adalah anakku, bersama anak dan istri. Rusman itu yang bakal meneruskan),” Ucap Mbah Mun.

Anak kelimanya yaitu Rusman (51) dan istri beserta anaknya yang membantunya dalam membuat Payung Mutho saat ini. Di usia tuanya, Mbah Mun dengan dibantu oleh keluarga anak kelimanya, Rusman tetap membuat Payung Mutho hingga 250 payung selama sebulan.

“Sekarang ini Saya bukan membuat, tapi membantu Mbah Rasimun karena Mbah Mun mata dan telinga tidak bisa jelas seperti dulu dan Saya sebagai pengganti Mbah Rasimun,” ujar anak kelima Rasimun.

Rusman juga menyebutkan bahwa anaknya berpartisipasi dalam memasarkan Payung Mutho buatan Rasimun di media sosial, seperti Facebook, dll. Sebab itulah, Rusman dan keluarga sangat berperan andil untuk melancarkan Rasimun dalam proses melestarikan Payung Mutho.

Penulis : Risnawati Romadhoni - LPM HMJF
Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan