Rekonstruksi Pendidikan Pesantren Era Globalisasi

Ilustrasi Pesantren (Sumber: Poskotanews)

Pesantren kini semakin banyak mendapatkan perhatian di tengah masyarakat khususnya masyarakat penganut konservatif. Modernisasi pendidikan islam merupakan tantangan tersendiri untuk dihadapi bukan untuk ditakuti, tentunya hal ini juga bisa dijadikan kesempatan bagaimana pendidikan islam indonesia semakin berkembang, maju, dan mampu bersaing ditingkat internasional. Dengan metode dan konsep pendidikan islam indonesia saat ini yang tidak bisa dipisahkan dengan pendidikan nasional tentu memberikan kontribusi yang berarti terhadap perkembangan pendidikan islam dengan memperoleh prinsip-prinsip yang dapat mengembangkan pandangan-pandangan baru serta mampu melahirkan SDM yang beriman, kreatif, sekaligus menguasai ilmu, dan teknologi.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang konsisten dengan ajaran-ajaran dan nilai-nilai agama, sehingga mampu mencetak santri yang menguasai agama. Sesuai dengan Al- Qur’an Surat At-Taubah: 122, kelompok ini adalah pengawal umat yang memberi peringatan dan pendidikan kepada umatnya untuk bersikap, berpikir, berperilaku, serta berkarya sesuai dengan ajaran agama. Hal itu terutama dilambangkan sebagai suatu kebutuhan ketika datang masa kritis yang mungkin saja terjadi tidak hanya ketika santri menghadapi dilema untuk mengambil keputusan atau langkah yang tepat akibat proses pemunduran. Justru yang disinggung oleh ayat tersebut ialah satu masa kritis yang sangat dilematis karena darinya harus diambil keputusan dan tindakan selanjutnya setelah memenangkan pertempuran. Dengan kata lain, setelah mencapai suatu titik keberhasilan yang memungkinkan untuk ditindaklanjuti dengan proses pembangunan agar mereka hati-hati serta penuh perhitungan dan persiapan untuk melangkah lebih lanjut. Para santri inilah yang mengemban tugas tersebut. Oleh karena itu, santri diharapkan menguasai ilmu agama tidak hanya sebagai nilai-nilai universal, tetapi juga mengusai tata cara implementasi nilai-nilai tersebut dalam suatu mekanisme yang serasi dengan penataan suatu bentuk kultur atau peradaban tertentu, yaitu budaya, kultur, atau peradaban islami.

Mungkin sudah banyak diantara kita ini yang sudah merasa tinggi sebagai seorang agamawan karena telah dengan taat menjalankan norma-norma hukum agama sebagaimana terdapat dalam fiqih, atau memegang teguh kaidah-kaidah kepercayaan sebagaimana diajarkan oleh ilmu ’aqo’id, atau dengan khusyuk dan rajin menjalankan ibadah sunah serta wirid-wirid sebagaimana ajaran tasawuf atau tarekat. Tetapi jelas, hal seperti itu bukanlah seorang agamawan yang dicita-citakan umat masa kini yang dengan hanya memperdalam bahasa arab saja seperti nahwu-sharaf dan sebagainya. Hanya saja patut disayangkan banyak pepatah ‘tenggelam pada syarat lupa tujuan’ dikarenakan banyak sekali zaman sekarang orang menghabiskan tenaga, harta, umur hanya untuk memperdalam ilmu-ilmu alat itu saja, tanpa sampai pada pengetahuan agama itu sendiri.

Dengan demikian, pesantren memberikan kesempatan bagi anak muda khususnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan agamanya dengan metode-metode modern, seperti membina santri melalui peningkatan kualitas madrasah yang ada dalam pesantren,baik melalui dirosah-dirosah klasikal yang intensif dan dirosah kepengasuhan, dalam konteks inilah peranan pesantren sangat penting. Tentunya banyak sekali tantangan yang dihadapi pesantren saat ini dalam menjalankan misinya dan hal ini diperlukan seorang sarjana sekaligus agamawan dalam menghadapi tantangan dan menangkap peluang. Apa yang harus dilakukan santri sekaligus mahasiswa agar supaya tetap berperan dalam membangun pendidikan di masyarakat?

Untuk tetap dapat melayani kebutuhan masyarakat katakan ilmu agama islam yang sudah diperoleh di pesantren, santri diharuskan mampu berbahasa arab, minimal mampu membaca kitab kuning, menguasai ilmu agama islam secara luas, mendalam, menguasai perbedaan-perbedaan paham yang pernah ada dikalangan umat islam mengenai berbagai masalah (politik, budaya, agama, dan sebagainya), menghayati dan mengamalkan ajaran agama islam sehingga dapat dijadikan teladan perilaku bagi orang lain yang mengikutinya, siap bekerja dimana saja dan berwawasan global dengan melihat seluruh permukaan bumi ini sebagai tempat pengabdian kepada Allah. Penguasaan bahasa asing (setidaknya bahasa Inggris sebagai bahasa internasional) agar dapat berkomunikasi (menyampaikan pesan islam) dengan orang asing. Penguasaan bahasa asing juga akan memudahkan mereka memperluas wawasan keilmuannya, mengikuti perkembangan dan kemajuan iptek sehingga dapat berkomunikasi secara lancar dengan warga yang kini sudah terbiasa hidup sehari-hari dengan iptek, mengusai ilmu komunikasi yang diperlukan untuk menyampaikan pesan islam dengn tepat dan benar.

Salah satu pesantren yang sudah mampu mengimplementasikan ajaran-ajaran agamanya dengan mekanisme yang serasi dengan perkembangan zaman adalah pesantren mahasiswa Al-Hikam Malang, yang mana pesantren ini dulu diasuh Abah Hasyim Muzadi yang dikenal dengan sebagai kiai pemersatu umat dengan ceramah yang sejuk dan penuh hikmah. Pesantren ini memiliki pedoman yang sangat fantastis, pertama yaitu amaliah agama, yang mana pada zaman sekarang ini banyak santri mahasiswa yang hanya dengan bangganya memiliki agama tanpa ada semangat untuk diamalkan, maka amaliah agama menjadi tujuan utama di pesantren mahasiswa Al-Hikam Malang. Kedua yaitu prestasi ilmiah, santri mahasiswa Al-Hikam dituntut untut terus menggali potensi-potensinya dengan kebebasan berkarya sehingga mampu menemukan dan menunjukkan prestasi-prestasi ilmiahnya. Dengan demikian, prestasi ilmiah selalu menjadi harapan utama di pesantren mahasiswa Al-Hikam. Ketiga yaitu kesiapan hidup, karena kita butuh hidup dan penghidupan tentunya kita harus siap menghadapi tantangan hidup. Maka dari itu, pesantren mahasiswa Al-Hikam memberikan fasilitas-fasilitas penunjang dalam menghadapi hidup seperti unit usaha minimarket, dan lain-lain.

Perguruan tinggi yang mempunyai keunggulan dari sisi rasionalitas dan ditambah dengan pengayaan di bidang keahlian, tetapi kekuarangan pengayaan moral, dalam kenyataannya hanya menghasilkan manusia yang cerdas tetapi kurang mempunyai kepekaan etik dan moral. Sebaliknya, pesantren mempunyai keunggulan dari segi moralitas tetapi minus dari sisi rasionalitas, meskipun mampu melahirkan pribadi yang tangguh secara moral, tetapi lemah secara intelektual. Dengan memperhatikan implikasi yang sifatnya demikian mendasar, sebagaimana telah digambarkan jika pendidikan dibiarkan bertahan dalam pola dualisme-dikotomik, maka sudah waktunya dicari usaha ke arah terciptanya suatu sintesa konvergensi atau sinergisitas sehingga dapat dicapai suatu kesatuan antara moralitas-rasionalitas, ruhaniah-jasmaniah.

Dengan demikian, pada akhir zaman ini sudah waktunya untuk merekontruksi kembali keilmuan-keilmuan tanpa memilah-milah ilmu agama dan ilmu umum, keseimbangan kedua keilmuan itu sudah teruji eksistensinya dan mampu memahami serta menyelesaikan masalah-masalah sosial, politik, budaya dan lain sebagain, Karena kedua keilmuan tersebut memiliki fungsi yang sangat fundamental dalam mencetak insan kamil yang berakhlak dan berintelektual. Maka dari itu, kami mengharap pesantren yang ada saat ini mampu memberikan berbagai macam pengetahuan dan keterampilan yang lebih duniawi dalam kerangka yang islami.

Pada hari santri kali ini kami ingin memberikan beberapa poin penting yang tidak kalah menarik dan sering menjadi hot issue, yaitu “Pesantren dalam Peta Toleransi dan Intoleransi”  tentunya hal ini merupakan tugas kita bersama selaku santri maupun alumni santri, pesantren yang diasuh oleh kiai dan dihuni oleh santri akhir-akhir ini memberikan kesan kurang begitu baik dan ini disebabkan oleh ketidakstabilan ilmu agama dengan pengetahuan umum yang akhirnya timbul beberapa pemahaman yang tidak relevan dengan apa yang mereka ketahui, sikap fanatik yang begitu fantastis dipertunjukkan tanpa melihat kronologi yang terjadi sebenaranya, bahkan bisa jadi sikap anarkis menjadi opsi juga karena sudah tidak ada pilihan lain demi mempertahankan ideologi dangkalnya.

Jika dipetakan, secara sederhana ada tiga kategori pesantren berdasarkan sistem pengajarannya, yaitu salafiyah (tradisional), ashriyah (modern), dan kombinasi dari keduanya. Berdasarkan sistem pengajaran dan orientasi keislamannya dalam konteks keragaman, LabSosio menyusun beberapa sub-kategori dari tiga kategori tersebut, yaitu salafiyah moderat, salafiyah radikal, ashriyah moderat, ashriyah radikal, dan kombinasi. Dari sekian banyak aneka macam pesantren maka bisa dipastikan akan berbeda-beda dalam mengimplimentasikan ajaran keislamannya. Maka dalam hal ini, pesantren memiliki ciri khas yang berbeda dari pendidikan islam lainnya.

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan