Selamat ulang tahun Noam Chomsky

Noah Chomski

Oleh : Ahmad Khoirul, Mahasiswa semester V Hukum Ekonomi syariah IAI Al-Qolam.

Dalam sebuah adegan dalam film “Captain Fantastic” menampil kan seorang ayah yang selama hidupnya tidak pernah merayakan natal seperti orang di belahan dunia lainnya. Namun ia lebih suka merayakan hari ulang tahun Noam Chomsky (tokoh intelektual asal Amerika Serikat), layaknya hari libur nasional atau bahkan seperti hari besar keagamaan. Ia lebih senang merayakan hari ulang tahun seorang manusia yang memperjuangkan HAM ketimbang merayakan hari peri magis nan fiksi.

Baca Juga : Resmi Luring, UB Terapkan Mekanisme Baru Perkuliahan Semester Ganjil

Lalu siapakah gerangan Noam Chomsky? Kenapa sosok ayah dalam film tersebut sampai rela mengabaikan perayaan hari besar yang ia anggap hanya ilusi? Mengapa merayakan ulang tahun seorang pejuang HAM noam Chomsky seakan lebih bermakna baginya? Apa yang Noam Chomsky lakukan?

Mempunyai nama lengkap Avram Noam Chomsky, ia dilahirkan pada 7 Desember 1928 di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ayah Chomsky, William Zety Chomsky, adalah seorang Sarjana Yahudi, ahli Gramatika Ibrani, dan dikenal sebagai penulis buku Hebrew the Eternal Language, sebuah karya tentang Bahasa Yahudi yang diterbitkan pada tahun 1958. Pada usia 12 tahun, Chomsky kecil telah membaca salah satu karya berat ayahnya tentang Bahasa Ibrani di abad ke-13. Dari ayahnya Chomsky kecil mengenal bahasa Yahudi, budaya Yahudi, dan tradisi kebebasan intelektual, yang kemudian melekat pada diri seorang Chomsky.

Sedangkan ibunya, Elsie Simonofsky, adalah seorang aktivis kiri yang mewarisi Chomsky keseimbangan tanggung jawab seorang intelektual, sebagai pemikir sekaligus aktivis. Suami dari kakak ibunya, paman Chomsky, yang mengajarkan perspektif intelektual pada Chomsky kecil dengan memperkenalkan pemikiran para tokoh. Dari pemikiran Sigmund Freud hingga berbagai aliran pemikiran komunis seperti Marxis, Stalinis, Trotsky, Leninis, dan lainnya .

Noam Chomsky dikenal sebagai ahli linguistik paling berpengaruh dalam abad ke-20. Chomsky mendapatkan pendidikan linguistiknya di bawah arahan Leonard Bloomfield yang empirisisme behavioristiknya mendominasi linguistik Amerika Serikat selama tahun 1930-an dan 1940-an. Selain itu Chomsky juga mendapatkan pendidikan berpolittik dari Zellig Harris, yang pandangan-pandangan politiknya selama tahun 1950-an disukai Chomsky lebih dari pada gaya strukturalisme linguistiknya.

Dalam proses penyebaran karya-karyanya nampaknya publik harus banyak berterimakasih kepada para editor, sahabat, aktivis serta simpatisan Noam Chomsky yang tertarik pada tulisan, kuliah serta wawancara kepada Zellig Harris. Mengingat dia jarang sekali berupaya mempublikasikan karya-karyanya secara langsung.

Baca Juga : Menggali Luka Rakyat di Tambang Freeport

Perlu diingat selain seorang ahli linguistik Chomsky dikenal sebagai tokoh intelektual yang berani ‘melawan arus’ atau dalam istilah populernya biasa disebut antikemapanan. Pendapatnya sering kali berbeda dengan arus wacana pada umumnya. Chomsky kerap memberikan prespektif baru secara kritis dalam melihat suatu permasalahan, serta gagasan yang ia kemas dengan argumen yang berbobot.

Kritik Chomsky sering ditujukan terhadap kolega intelektualnya yang kerap kali ia sebut sebagai “pembebek garis resmi Amerika Serikat”. Tidak sampai disitu krik Chomsky juga kerap ditodongkan kepada elit-elit Amerika Serikat secara langsung. Terutama berkaitan pandangannya terhadap kebijakan luar negri AS yang ia nilai seringkali “menghianati” apa yang mereka agung-agungkan, yakni hak asasi manusia. Beberapa tulisan tajam Chomsky perihal ekonomi politik adalah: American Power and the New Mandarins (1969); The Backroom Boys (1973); Human Rights and American Foreign Policy (1978); The Fateful Triangle; The United States, israel, and the Palestinians (1983); Necessary illusions: Thought Control in Democratic Societies (1989); dan Deterring Democracy (1991).

Tak hanya itu, pemberitaan media-media besar dalam berbagai kasus seperti perang dingin, tatanan dunia baru, serta demokrasi merupakan objek utama dari Chomsky. Menurut guru besar linguistik tersebut, pandangan monolitik media-media besar. Media yang tampil secara konsisten harus dicurigai sebagai upaya untuk mempertahankan status quo yang ada, termasuk hegemoni negara-negara besar atas negara-negara dunia ketiga. Dengan sepak terjang yang cukup merugikan bagi status quo yang ada, Chomsky sempat masuk dalam daftar panjang musuh gedung putih pada masa pemerintahan Richard Nixon.

Hal tersebut tak membuatnya jera, Chomsky berpandangan bahwa tindakannya tersebut merupakan salah satu pertanggungjawabnya terhadap ilmu pengetahuan yang ia miliki. Dalam salah satu wawancara dengan pegiat Red and Black Revolution salah satu organisasi aktivisme, Chomsky menuturkan, “Bertrand Russell dan Albert Einstein sama-sama dikenal sebagai intelektual hebat. Keduanya sepakat bahwa bahaya tengah mengancam umat manusia. Tapi mereka memilih jalan yang berbeda untuk meresponsnya. Einstein hidup dengan enak di Princeton dan mengabdikan dirinya semata-mata untuk riset seraya sesekali menyampaikan orasi ilmiah, sementara Russell memilih melakukan demonstrasi di jalan,”. Dia melanjutkan “Ingin tahu hasilnya? Russell dikutuk sementara Einstein dipuji selangit seperti layaknya malaikat. Apakah itu semua mengejutkan kita? Tidak.” kata Chomsky yang sadar benar akibat dari pilihannya.

Selain Kritik tajam pada kapitalisme yang ia sebut merkantilisme korporasi hanya merupakan wujud baru dari merkantilisme feodal sebelum revolusi industri. Chomsky juga mengkritisi beberapa pandangan terkait sosialisme terutama beberapa gagasan marx serta penerusnya.

Menurut chomsky, walau mengaku bukan pakar marxisme, ia sependapat dengan Michael Bakunin perihal “birokrasi merah” (konsep marxisme) yang merupakan konsep pemerintahan terburuk dari segala konsep pemerintahan. Dalam buku Notes on Anarchism, Chomsky menuliskan bahwa Marx muda adalah seorang tokoh akhir pencerahan yang pikirannya banyak sekali dipengaruhi pemikiran liberalisme klasik dan Marx tua adalah seorang pegiat otoriter dan analis kritis terhadap kapitalisme yang tidak memiliki banyak alternatif sosialis.

Sosialisme Libertarian

Chomsky telah menyatakan bahwa pandangan personalnya adalah merupakan anarkis tradisional, yang berasal dari Masa Pencerahan dan liberalisme klasik. Dia juga memuji sosialisme libertarian yang merupakan simpatisan anarko-sindikalisme dan anggota serikat Industrial Workers of The World  (IWW). Dia telah menerbitkan sebuah buku tentang anarkisme berjudul Chomsky on Anarchism yang diterbitkan oleh kolektif buku anarkis AK Press pada 2006. Dalam hal ini sekali lagi Chomsky setuju dengan pendapat Bakunin perihal “Kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan”.

Meskipun dalam analisis tentang bagaimana dunia berkerja begitu lugas dan gamblang, tapi Chomsky sedikit menghindari perihal teori praktis terutama perihal perubahan sosial untuk mengatasi permasalahan tersebut. Chomsky berpendapat sangatlah sulit untuk menentukan bentuk yang ideal sebagai alternatif terhadap status quo hari ini yang begitu menindas. Baginya pengalaman secara empirislah yang akan memberikan pendewasaan akan dibawa kemana perubahan itu akan dibawa.

Namun secara umum Chomsky menganjurkan sebuah prinsip bentuk masyarakat masa depan harus berdasar sosialisme dengan kemerdekaan. Prinsip-prinsip tersebut muncul dari arus pemikiran yang kini dikenal luas dengan Anarkisme yang oleh Chomsky disebut dengan sosialisme libertarian.

Akan tetapi anarkisme hari ini oleh budaya intelektual banyak disalahartikan dan sengaja disalahpahami. Kebanyakan menilai bahwa anarkisme tak jauh dari ketidakteraturan, perusakan, kekerasan, kekacauan, tanpa hukum dan lain-lain. Menurut Chomsky pengaburan makna ini  merupakan suatu peran intelektual negara sebagai pelestari status quo.

Anarkisme sangatlah jauh dari mindset kebanyakan hari ini. Chomsky mencontohkan Revolusi Spanyol sebagai ‘anarkisme dalam praktik’. Perjuangan revolusi kaum anarkis pada 1936 tersebut bukan sebuah kebetulan. Ia ( revolusi kaum anarkis) lahir dari pendidikan, organisasi, perjuangan, kekalahan, dan kadang kemenangan. Dari hal tersebut, Chomsky menilai gerakan anarkisme lebih manusiawi. Anarkisme dalam substansinya ialah perlawanan terhadap penindasan oleh otoritas beserta aparatusnya. Dalam hal ini mewujudkan masyarakat anarkis berarti belajar menciptakan masyarakat secara merdeka dan berkeadilan.

Selamat ulang, sehat selalu profesor, dunia membutuhkanmu.

panjang umur perjuangan !

Sumber :

  1. https://ekspresionline.com/2018/12/08/noam-chomsky-intelektual-pembangkang/
  2. https://anarkis.org/noam-chomsky-marxisme-anarkisme-dan-harapan-untuk-masa-depan/
  3. Terjemahan bahasa Indonesia oleh Yab Sarpote dari Red & Black Revolution No. 2 tahun 1996. Naskah daring wawancara ini dapat diakses di alamat berikut: http://www.ditext.com/chomsky/may1995.html
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Noam_Chomsky
  5. https://www.academia.edu/11693304/Avram_Noam_Chomsky_-_Pakar_Linguistik_Teoritikus_Politik
  6. https://galeribukujakarta.com/linguistik-dan-strukturalisme-noam-chomsky/
Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan