TENTANG MEDIA CETAK, MEDIA DARING, DAN DILEMANYA

Oleh: Laila Nur Rohma

Teknologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis. Pada era teknologi canggih seperti saat ini sudah tidak diragukan lagi segala sesuatu sudah semakin mudah dan praktis. Tidak tekecuali untuk mendapatkan informasi. Dahulu informasi didapatkan dengan membaca media cetak namun sekarang sudah berbeda, media daring sudah menjadi alternatif yang banyak digandrungi oleh segala kalangan. Lalu bagaimana dengan nasib media cetak? Khususnya yang diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa?

Kata “pers” berasal dari bahasa Belanda yang berarti tekan atau cetak, definisi teminologisnya adalah media cetak. Berdasarkan pengertian tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa dalam artian sempit pers berarti produk-produk yang diterbitkan yang telah melalui proses cetak seperti majalah, buletin, koran dan lain sebagainya. Menurut beberapa perwakilan redaksi dari Lembaga Pers Mahasiswa di Malang dalam acara diskusi pimpinan redaksi PPMI Kota Malang, media cetak LPM sekarang mengalami kemunduran pembaca karena kalah bersaing dengan media daring dan turunnya minat membaca mahasiswa meskipun masih ada beberapa pembaca setia produk cetak LPM. Selain itu, untuk menerbitkan media cetak juga membutuhkan biaya yang tidak murah. Belum lagi, tindakan penyensoran tulisan yang rawan dialami oleh media cetak dari pihak kampus.

Apakah harus sepenuhnya beralih ke media daring? Berdasarkan pendapat-pendapat yang diutarakan pada diskusi, media daring memiliki kelebihan yakni lebih mudah diakses meski demikian belum semua LPM memiliki media daring yang mapan karena keterbatasan sumber daya manusia untuk pengelolaannya. Selain itu, bisa jadi target utama pembaca tidak tersasar melalui media daring ini karena sifatnya yang dapat diakses oleh siapapun. Belum lagi persaingan dengan akun anonim yang akhir-akhir ini sangat popular dikalangan mahasiswa.

Perspektif pemilihan media cetak dan online selama ini dilihat dari tingkat keterbacaan tulisan. Lalu, apakah tingkat keterbacaan yang menjadi tolak ukur sebuah tulisan? Tidak dipungkiri, tingkat keterbacaan merupakan salah satu hal yang penting untuk dipertimbangkan. Namun ketepatan target sasaran sebuah tulisan dirasa lebih penting karena tujuan dari membuat tulisan adalah menyampaikan pesan kepada target. Media cetak yang kurang praktis dari pada media daring rasanya tetap perlu dipertahankan sebagai identitas dan eksistensi pers mahasiswa. Meskipun media daring dianggap lebih praktis namun nyatanya tidak semua LPM mampu mengelolanya dengan baik dan seringkali target pembaca tidak tepat sasaran.  Media cetak dan daring harusnya bisa berjalan seiring. Media daring menunjang dari media cetak dimana tulisan pada media cetak dapat dimuat ulang untuk mempermudah akses pembaca.

Ada beberapa upaya yang disampaikan oleh peserta diskusi untuk meningkatkan pamor media cetak. Pertama, melalui desain tampilan tulisan yang dibuat lebih menarik untuk memikat mata pembaca. Kedua, mengadakan launching produk untuk mengenalkan dan mengupas tulisan, namun sering kali hal ini terkendala dana. Ketiga, konten tulisan yang dibuat sesuai segmen pembaca agar tulisan bisa bermanfaat. Keempat, melibatkan mahasiswa umum untuk menulis agar ada rasa ingin memiliki.

Tidak dipungkiri perubahan zaman menuntut manusia untuk beradaptasi, tidak terkecuali insan pers mahasiswa dan LPM. Bagaimana cara menyikapi perubahan tersebut adalah yang terpenting. Keberadaan media daring tidak bisa dibendung, kemunduran media cetak harus disiasati. Tidak ada kematian, yang ada hanya perubahan. Salam pers mahasiswa!

sumber gambar: kris170845.wordpress.com

Total
0
Shares